Karya Ibnu Ghifarie

Masukan dari Mei 2007

Karya 26

Mei 30, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Ontologi Puisi; 11 Titik

Karya Teche (9)

Wejangan Kartinian

Oleh Pradewi Tri Chatami

Perempuan jaman sekarang, kata ibuku
tak tahu terima kasih sama Kartini.
‘dulu dia merjuangin pendidikan,
bukan sibuk bersolek buat lomba kebayaan’
(waktu itu ada kontes kebaya di tv)

Perempuan jaman sekarang, kata ibuku
tak tahu terima kasih sama Kartini.
‘dulu dia merjuangin harkat martabat wanita,
bukan maksain goyang erotis mancing birahi’
(dia lagi nonton acara gosip tentang inul)

Perempuan jaman sekarang, kata ibuku, lirih.
tak tahu terima kasih sama Kartini.
‘dulu dia nyelipin refleksi religiusitas islam
yang membela perempuan,
makanya dia ngutuk abis poligami,
karena dia juga ngalamin
langsung, ataupun engga.
Bukannya terbuai sama singkatnya asmara
dan terseret cinta yang mendua
dengan iming-iming surga.’
(ngomentarin isu poligami)

Ah..Ibu, kalo gitu,
kayaknya sekarang Kartini jengah
gerah sendirian disana di alam barzah ,
nyari cara buat ngerangsek dari kuburnya!
(april21,2k6)

Mendua

Oleh Pradewi Tri Chatami
-bwt shen-

Mendua, diantara cinta-cinta
yang tersakiti
dan menjamah bayangmu pun
menjadi lebih jadah dari dosa!
Tanganmu menghamba,
sedang ia hanya bertekuk lutut..
bulir-bulir airmata
basahi serpih hati.


(april30,2k6)

Yang Kumau

Oleh Pradewi Tri Chatami

Aku ingin hidup!
Aku ingin terbang!
Jika jatuh, aku ingin jatuh dari langit ketujuh
Aku ingin terbang melayang
sebelum mencium tanah dan hancur!
Aku ingin ajari orang-orang tuk bermimpi,
dan menjalani hidup demi mimpi
Aku ingin ajari orang untuk berani
wujudkan angan…
cintai kehidupan.
Aku ingin ajari orang-orang
mempersembahkan kehidupan,
dan bahagia…

Anak Kecil Itu

Oleh Pradewi Tri Chatami

Anak kecil itu masih disana
Mengais-ngais sampah,
berharap masih ada sekedar remah
untuk membungkam cacing di perutnya

Anak kecil itu masih disana
bernyanyi lantang
pasang muka yang bikin kasian
tapi ia masih tetap terabaikan

Anak kecil itu masih disana
terlelap dalam mimpi yang tak begitu indah,
di antara riak kehidupan malam yang tak ramah

Anak kecil itu masih disana
di tengah gang kecil di sudut kota
tangan kecilnya megang lem aibon
sesekali ia ketawa,
sesekali ia bengong,
sesekali ia meracau tentang ibu
yang mayat bugilnya ketemu di pinggir kali

Anak kecil itu masih disana
sekarang, dan entah sampai kapan…

(sept12,2k3)

Indonesia

Oleh Pradewi Tri Chatami

Berjalan di tengah remang fajar
Semburat jelaga maha kelam
Liat! Ada babi hutan naik Volvo,
dan anjing kudisan naik BMW!
Cecurut-cecurut pesta kembang api,
ngejarah nurani.


Selamat datang di labirin maha legam!
Disini, kita akan berputar di area
kemiskinan, kejahatan, basa-basi,
dan perkosaan kemanusiaan maha dahsyat!


Di tempat ini, jalan sesak
sama rambu seribu jargon!
Disini, mentari enggan terbit,
malah lari terbirit-birit!


(May20,2002)

Just 4 my self…

Oleh Pradewi Tri Chatami

Kemana saja kau selama ini?
Tanpa nurani, kau melayang mirip kunti,
tak lagi sebagai manusia yang membumi.
Ikuti palsunya mimpi tidur siang,
hingga hati buta tak jua tercerahkan.

Kelewat sibuk sama gosip remeh,
dan puas cuma sama omong kosong istilah-
istilah intelektual, sok ilmiah.
Cintamu juga tak mengarah, tak manusiawi.
Kau lebih busuk dari limbah!
Lebih iblis dari setan, parasit!
oh,…aku!

Ziarah

Oleh Pradewi Tri Chatami

Jalan itu memang tak lurus, sahabat

Kadang kita menemukan tikungan tajam tak terduga
kadang ada simpangan-simpangan yang membuat kita bingung,


Atau lupa pada tujuan kita,
Karena kita tertarik untuk membeli rokok
Dan menyeruput segelas kopi
Di kedai seberang jalan.
Hidup tak jauh dari yang demikian,
Dan lebih sering ia menawarkan kembang gula
Warnawarni agar kita sejenak berpaling
Tak mencari lagi harta karun kita.
Padahal ayah ibu selalu berpesan
Bahwa kita berpacu dengan waktu,
Ia yang takkan kembali setelah sekali ia jadi
Masalalu.


Tapi surga di akhirat sana penuh dengan pelanggar
Rambu-rambu jalan dunia pada masanya
Disesaki dengan halhal yang kerap buat kita
Disebut wong edan,
Dipenuhi sekumpulan orang yang menggilakan dirinya
Demi harta yang disebut kebenaran dan pengetahuan,
Bukankah itu tempat dari Ibrahim, Musa,
Isa, Muhammad, dan Maryam?


Bukankah Itu pula rumah Adam dan Hawa
Yang telah memakan buah terlarang?
Ah, sobat, bukankah yang benar selalu saja salah?
Dan kita hanyalah pejalan, sekali waktu kita tamasya
Di taman cinta,
Dan saat yang lain ziarah ke pemakaman kemanusiaan

Selamat Datang Di Kampus-kampusan

Oleh Pradewi Tri Chatami

selamat datang di kampus-kampusan,
institut-institutan yang kini berubah jadi
universitas-universitasan.
Sebuah perubahan-perubahanan
Termasuk tambahan-tambahanan
Fakultas-fakultasan
Yang dibumbui
Pemilihan-pemilihanan
Dekan-dekanan

Ah, ini memang tempat-tempatan
Main-mainan
Mahasiswa-mahasiswaan
Tempat belajar-belajaran
Ilmu-ilmuan
Tempat teriakan-teriakanan
Orang-orangan
Yang gila-gilaan

2006

Cinta

Oleh Pradewi Tri Chatami

Kubilang: Aku cinta kamu! Cukup??
Kuulang:
Aku cinta kamu.
Seperti cinta perempuan pada sunyi di tepi gemuruh resah
Cinta yang mengaji ayatayat gelisah pada senyap duapertiga malam.
Tak terbaca oleh dua bola mata,
Tak terkata oleh dua garis bibir,
Diam yang setia bercerita…

Aku cinta kamu,
Seperti cinta Hawa pada Adam.
Cinta yang membawa pada kejatuhan
Mengubah Taman Eden menjadi taman bermain
Mengubah sebutir Apel memjadi secawan Anggur
Mabuk, menerawangi setiap batas nalar
Sepenuh sadar…

Aku cinta kamu. Kawan. Kasih.
Dengan iman pejalan ketakpastian
Melewati setiap remang gusar diseling igau gurau
Menertawai nestapa, terbahak pada kegetiran rindu yang tak terjamah ucap…

2006

Jalang

Oleh Pradewi Tri Chatami

aku adalah perempuan jalang
begitu kata konstruksi sosial
perempuan jalang!
seru moralitas konvensional
aku memang liar,


ingin bebas menolak dirantai
tapi jika karena itu kalian pikir aku binal,
maka siapa kalian sebut diri kalian
saat kalian melacurkan apa saja
demi belenggu yang kalian sebut
tatanan norma


siapa kalian panggil satu sama lain
saat identitas yang kalian punya
hanya merkmerk keluaran pasar besar
yang kalian sebut sejati kehidupan beradab?
norma kalian memaksa manusia
melata di ujung kakinya


untuk menjilat pemegang rantai
peradaban kalian membuat manusia
lupa mereka lahir merdeka
-2006-

Karya Badru Tamam Mifka (11)

Dzikir Satu

Oleh Badru Tamam Mifka

Perempuan,
dzikir ini lahir dari mata hati yang
merapatkan dirinya pada setiap
tikungan bismillah
Ia mengurai diri dalam keheningan
yang selalu berkata pelan:
“berikan aku suara terbaik dalam
setiap kerinduan yang engkau berikan
dengan tabah untuk seorang kekasih.”

Ia takzim pada setiap gagasan yang
memberi kita sepetak hamdallah
untuk bersujud mensyukuri Cinta
Dengarlah suaranya, kekasihku
–suara yang dapat kita dengar
tanpa telinga, tanpa sedikitpun kebencian

Dzikir ini lahir dari mata hati yang
merapatkan dirinya pada setiap
tikungan bismillah
Ketika ia menatap,
maka ikutilah kemana arah ia menatap
maka pergilah menuju arah ia menatap

2006

Jika

Oleh Badru Tamam Mifka

Jika kita lahir dari kebenaran Cinta,
kenapa harus mata jiwa dipaksa buta?
Jika kita lahir dari keberanian Cinta,
kenapa harus degup bathin dibiarkan membatu?
Jika kita lahir dari keindahan Cinta,
kenapa harus selaksa mata menata leluka?


Jika kita lahir dari kemerdekaan Cinta,
kenapa harus sabda tak kunjung bersuara?
Jika kita lahir dari kesetiaan Cinta,
kenapa harus kalah meraba kisah?
Jika kita lahir dari keabadian Cinta,
kenapa harus nurani dilarang menari?


Jika kita lahir dari penempuhan Cinta,
kenapa harus usia harapan adalah angan kematian?
Jika kita lahir dari kelembutan Cinta,
kenapa harus detik bathin demikian dingin?
Jika kita lahir dari kejujuran Cinta,
kenapa harus makna terpenjara dusta?
Kenapa harus jika?

2006

Setapak Tanda

Oleh Badru Tamam Mifka

Waktu yang berputar itu berpendaran —seperti kerikil yang dilempar dan menyembunyikan
bunyi ketika sampai di dasar danau
Lalu do`a-do`a juga cabar, menembus dinding, majalah,
diary, obrolan dan surat kabar

Barangkali ada setapak tanda dari setiap langkah
Burung-burung berhamburan dan debu bertaburan
Disitu berulangkali hidup masih saja terasa menyekap
dan membebaskan
Semua orang bersitatap, mencari pahlawan
Mencari nabi dan pahlawan hari ini
Kitab hari ini
Tuhan hari ini
Peta hari ini

Semua orang mencerna mencari makna
Menggali rencana
Semua orang menyulam dunia

2006

Beratus Tahun Bebaring

Oleh Badru Tamam Mifka

Malam bangkit Heningnya tegak seperti alif
Seorang lelaki tersuruk di mata malam
Ada teriak yang berulangkali dipendam

Ia bangkit dan memulai kesedihannya
dengan nyanyi sunyi, lalu doa-doa yang demikian terbuka
Tetapi berulangkali ia terluka, terlunta:

“…haruskah aku menjahit bibirku agar tak diteriakkan lagi puisi
paling sepi yang kelak begitu mudah
menajamkan pedih didadaku?”

Lelaki itu perlahan rebah—beratus tahun terbaring
Tuhan, malam bangkit, lelaki itu kelak
tak bangkit kembali. Hening

November 2006

Di Negeri Ini Cinta Digusur Kekuasaan

Oleh Badru Tamam Mifka

Mata hati, mata hati gelisah Mata luka sejarah
Di negeri ini cinta digusur kekuasaan
Air mata ditumpahkan
Perempuan-perempuan dijatuhkan


Manusia-manusia berdesakan dalam ruang yang gelap.
Putus asa. Orang-orang kalah yang dipecah.
Mereka dikerat-kerat, digilas khianat.
Mereka diculik haknya. Dicekik kemerdekaannya.
Jika negara adalah neraka
Maka rakyat adalah gelora luka yang diperdagangkan
Ribuan orang sisa disampahkan pembangunan
Dibutakan jiwanya, ditulikan hatinya
dibisukan waktunya


Keringat bercampur air mata kehilangan
Kemiskinan meradang menerjang keseharian
Gedung-gedung dibangun, pengangguran dihiraukan
Anak-anak dididik untuk jadi gelandangan
Gelepar kelaparan, darah dingin kemiskinan
Rakyat merajut nganga rasa pedih
Rakyat dicabik rasa sedih


Dibawah telapak kaki pejabat dan hisap pengusaha
Dibawah tapak sepatu-sepatu tentara
Dibawah harapan-harapan yang dihancurkan
Dihancurkan. Mereka dihancurkan!


Jika kerja adalah serigala
Maka mereka adalah ribuan buruh yang tak utuh
Meletakkan nyeri berkelindan diantara hak, upah dan vagina
yang dilecehkan majikan
Mulut mereka dikunci, dibungkam baja dipenjara-penjara janji
Runtuhlah marsinah-marsinah diceruk kata kekuasaan
Tanpa keadilan


Jika ladang adalah murka
Maka mereka adalah petani-petani yang sakit hati
Menyandarkan rasa resah ditembok-tembok para tuan tanah
Menggarap pengap lahan pertanian, gabah yang disampahkan
Ribuan penduduk melata menyerbu kota, bermain dadu kematian
dilubang nista


Jika lapak adalah perkara
Maka mereka adalah para pedagang yang terbuang
Mengais mimpi yang robek di tepi trotoar dan di pasar-pasar
yang gusar dengan kaki yang dipatahkan, dilumpuhkan,
direbut mata pencahariannya
Atas nama ketertiban
Atas nama keindahan!

Berita Zaman

Oleh Badru Tamam Mifka

Ada ribuan berita melata diantara
hati yang terbakar dan bumi yang tercemar
Seperih mata, mulut kecut
dan kulit yang sakit, kita mendengar suami
membunuh isteri, isteri membunuh suami
dan penduduk yang menghisap
racun-racun limbah industri

200 juta rakyat sekarat
diantara keserakahan pejabat-pejabat
yang korupsi dan kematian perlawanan puisi
Masyarakat diancam kekerasan, dihantui kelaparan
dan dijerat penipuan
Populasi penduduk bengkak dan ambisi
berdesak-desak saling gasak

Undang-undang berbusa-busa ditindih
kaset-kaset palsu, VCD porno bajakan,
obat-obat oplosan dan uang palsu
Ada ternak diberi minum banyak
oleh pedagang-pedagang daging yang tamak
Agama juga dibuang di tong sampah,
dikerubuni lalat-lalat dipinggir jalan

Di kaca televisi orang membincang
skandal dan sex bebas
Ibu-ibu muntah melahap sinetron
Setiap hari penjahat-penjahat menguasai berita
Ketakutan-ketakutan menyelimuti jam dinding

Ada anak-anak kekurangan gizi
Ada antrian pembeli minyak tanah yang langka
Orang-orang miskin kehilangan nafkah dan rumahnya
Banjir dan lumpur panas menenggelamkannya
Menenggelamkan kesejahteraan
Membenamkan harapan

Dinegeri ini,
Ada kecurangan dalam pembangunan
Ada keji dalam janji-janji
Ketika pemerintah bukan lagi pembawa amanah
Ketika ulama bukan lagi peyambung agama
Ketika kejaksaan jadi komplotan
Ketika polisi jadi gadungan
Ketika pengajar jadi kurang ajar
Ketika manusia bukan lagi manusia
Ketika manusia lenyap dimabuki fantasi

O, zaman edan
Kita hidup di zaman kurapan
ketika kepala berotak diganti bola dunia
Ribuan nilai berputa-putar
menukik, mematuki diri
seperti cabikan beribu burung nazar
Berbusa-busa mulut di depan televisi
Berbusa-busa dalam ilusi
Disana kita yang dibangun dan kita yang
berulangkali dihancurkan zaman

O, zaman edan
Kita hidup di zaman kurapan
ketika tubuh dijadikan tuhan dan
pusat pemujaan yang angkuh
dalam irama komoditi
Agama dibendakan, dicari-cari
dilipatan celana Madonna
Moralitas dirobotkan, diputar-putar
dalam mekanisme libido yang binal
Kemanusiaan dimesinkan
Berjuta tanda dusta mempercepat
geliat hasrat
Berpacu dengan dahaga
Berpacu dengan berhala
Orang-orang kesurupan
dan yang lainnya ketakutan
Berlomba-lomba menenggak
fatamorgana zaman dengan segelas
luka saudaranya

Ada ribuan berita melata
Diantara koran-koran bekas yang
diinjak sepatu-sepatu dan ditiduri
anak-anak gelandangan
Televisi dimatikan dan radio berganti saluran
Listrik padam dan siang menjelang malam

Di negeri ini,
Ada ribuan orang berpesta
Ada ribuan yang lainnya dinista

2006

Doa Yang Tercatat

Oleh Badru Tamam Mifka

Kutulis doa ini untukmu, perempuanku
sebab aku ingin mencatatmu dalam
hitungan tahun yang panjang
—seperti hitungan takzim dan ketukan kerinduan
yang saling bersentuhan

Selalu ada dunia berpendar di mata kekasih
Lalu kita belajar berharap bahwa Cinta seperti ibu
yang melahirkan kita
Seperti keteduhan yang acap meluruskan muram
dan sunyi yang kerap melengkapi malam

Aku ingin mencintaimu, kekasihku
seperti kelak begitu mesranya anak-anak kecil
mencium kedua belahan pipiku
Sebelum hati-hati kuikat tali sepatuku
Sebelum pelan kau masukkan setiap kancing bajuku
Sebelum kelak kau bercerita padaku
bahwa doa-doa semalam hanyut di arus gerimis
Lalu separuhnya terselip diantara
angka-angka kalender dan temaram

Dan jika waktu adalah batu-batu
maka kita akan berjalan jauh menapakinya
Sampai akhirnya kita akan mengetuk pintu
dengan perasaan yang perkasa menerima setiap
suara kenyataan yang dihadirkan deritnya
Disana aku menjadi telaga bagi resahmu
Dan kau menjadi telaga bagi gelisahku

Selalu ada tanda yang tersisa untuk diterjemahkan
—barangkali luka dan kekhawatiran
Selalu ada makna yang diraih ketika pedih dicerna
dengan hati yang bersih, sikap yang lembut dan
pikiran yang tak lagi kalut

Hidup ini, kekasihku, seperti ribuan helai panjang
hitam rambutmu
Ada saatnya aku terlalu gemetar mengurainya
Ada saatnya kau begitu rapi menggerainya
Ada saatnya kau tak bisa lengkap merabanya
Ada saatnya aku aku begitu pasti membelainya
Atau begitu sepi langitmu dan anak-anak kecil
tampak berlarian nakal di teras mesjid ini
Atau begitu perihnya pikiranku dan kulihat bayi kecil
menangis di pangkuan bapaknya
Atau begitu harumnya kebersamaan dan aku ingin
menemanimu mencium aromanya
Atau kelak kita akan mengajari anak-anak yang penakut
untuk menulis puisi dengan bolpoint yang tiba-tiba
tintanya kering, jiwa yang tiba-tiba kering

Kutulis doa ini untukmu, perempuanku
sebab aku ingin mencatatmu dalam
hitungan tahun yang panjang
—seperti hitungan menempuhi ketabahan dan
harapan yang bersahutan

Dan jika waktu adalah restu
maka kita akan belajar saling mempertautkan kehalusannya
Selalu, kekasihku, aku ingin mencintaimu
Jadilah ibu bagi puisi-puisiku yang berserak
Jadilah ibu bagi anak-anakku kelak.

Kampus, 22 Desember 2006

“Selamat Hari Ibu”

Cipadung

Oleh Badru Tamam Mifka

Matahari turun perlahan dan
warnanya jatuh disungai
Barangkali ada petani yang akan lewat
dan tersenyum pada takzim kita, seperti sebait puisi
Masih ada angin, seperti kemarin
yang berulang-ulang kucatat diatas daun bathinku

Lalu ingin aku mengajakmu kesana
Menuruni ladang, merawat bunga-bunga dengan
jantung berdegup seperti ketukan
tangan kekasih di pintu doa-doa.
Kita akan bercocok tanam harapan
di kebun masa depan

Berpegang erat tanganku, tanganmu
Kangenku melihatmu tersipu malu
Tersenyumlah, hidup ini mungkin
seperti rasa lelah yang ingin dimengerti.
Marilah pulang, teteh, jangan dulu menoleh ke belakang
Sebelum malam habis, sisa-sisa embun jatuh
dan tunas-tunas itu tumbuh

10 maret 2007

Dik, Ini Juga Untukmu

Oleh Badru Tamam Mifka

Betapa ingin aku tetap berpaut denganmu
Seperti temali Tuhan di kerapuhan iman ini
Seperti napas Tuhan di urat leher kita

“Berjalanlah disampingku, sepenuh usia dan sendu.”

Lalu tibalah rindu ini di rumah-rumah hikmah
—tempat kita tak lelah memanen makna
dalam perbendaharaan peristiwa
Dan kitapun dipergilirkan
seperti musim dan warna cuaca yang
berubah-ubah, berganti-ganti
Disana, segala pertemuan akan menjadi seluas
pengetahuan dan perpisahan menjadi seraih pelajaran

“Temani aku, Dik, sebab kita fana dilingkaran dunia.
Agar lebih keras kita bekerja dan lebih lembut
kita berharap.”

Betapa ingin kuamalkan jiwa ini
sebelum aku lupa menghukumi diri
Sungguh, tak henti mesti kita hijrahkan diri ini
menuju Cinta
Tak henti, tak henti-henti bermanusia

Betapa ingin aku tetap berpaut denganmu, Adikku
seperti puisi-puisi. Seperti doa-doa yang sunyi.

Maret 2007

Di Tikungan Jalan

Oleh Badru Tamam Mifka

Di jalan yang menikung,
kita akan menemukan selembar doa
kita lipat saja dikerumunan hujan
biar ditabuh gerimis
digerayangi dingin

Bangun surau kita
lebih dekat dengan jalan
dan kita saling merapatkan kata-kata
Menafsir setiap ketukan dipintunya
sebagai sebuah kekalahan usia

Di jalan yang menikung,
terkadang ada beberapa doa
mengajarkan kita tetap tersenyum
pada sesuatu yang percuma

April 2006

Sajak usia

Oleh Badru Tamam Mifka

Kucatat seluruh keheningan
Ketika musim menggugurkan
Dedaun luka
Dipelupuk ketabahan

Ada seribu kata dibuang di tepi kalender
Ketika perlahan senja
Merebut setiap sajak usia
Yang surut di tajam arah

Langit turun dan semua cuaca
Gemetar disentuh sujud
Telah kita selesaikan abad ini
Tetapi simpan sejenak
Harapan panjang yang tersisa
Sebab ia terlalu mahal
Untuk kita pecahkan detik ini

Sepanjang jalan ini,
Kita berulangkali
Ditelikung usia kita sendiri

April 2006

Jalang

Oleh Badru Tamam Mifka

Perjalanan ini demikian berjatuhan
Sebab setiapkali senja pulang
Ada setapak malam menjauh mengiris arah

Aku rangkum leluka dalam muara cinta
Menyusuri semua nyeri
Lewat kekuatan puisi

Lalu apa yang dapat kita dekap
Dalam arti menunggu?
Apa yang dapat kita tangkap
Dalam arti mencari?

Kutafsir hadirmu dalam keletihan bahasa
Juga seribu diam tengadah mengukur
Setiap garis langit yang patah

Dan hidup ini jalang, saudaraku
Ia kerap mengajak kita
Bertengkar dengan
Harapan dan rasa kehilangan.
Tak henti. Tak hening.

April 2006

Inti Rindu Diriku

Oleh Badru Tamam Mifka

Engkau bersemayam dalam
Inti Rindu Diriku
Beribu-ribu kali basuh igauku
Dalam kelipatan gelisah dan putus asa
Andai aku mampu ucapkan seutuhnya
Tentang Engkau dalam kata
Andai aku mampu lukiskan seutuhnya
Wajah Engkau atas kanvas


Andai aku mampu tuliskan seutuhnya
Sosok Engkau lewat puisi
Andai aku mampu nyanyikan seutuhnya
Ada Engkau diantara lirik lagu
Andai aku mampu hadapkan wajahku
dengan wajah-Mu
Hanya remuk memahat maksud
Rahasia-Mu sudah cukup beri Mabuk
Dalam setiap ingat


Jauh kebelakang sebelum itu
Aku menebar cari Engkau dalam
dahaga jarak
Di luar diri
Engkau kesepian dalam pencarianku
ke barat, timur, utara, selatan,
kungan dan sudut-sudut langit yang jauh
Engkau disini ternyata
Dalam Inti Rindu Diriku
Amat dekat, utuh Engkau dalam akrab.

2003

Karya Ibn Ghifarie (8)

Apa Jadinya (1)
Oleh Ibn Ghifarie


Apa jadinya kalau kampus tak pandai memainkan pena?
tak ada baris sejarah, tak ada percik peradaban…
tak ada cercah harapan, tak ada goresan kenangan…
tak ada pemaknaan, kesaksian, kebenaran, perjumpaan…
sebab setiap yang di jumpai bukan lagi sesuatu yang beradab

Apa jadinya kalau kampus tak lagi mencintai buku-buku?
tak ada ilmu pengetahuan, tak ada kebijaksanaan…
tak ada karya, tak ada kemajuan…
tak ada kekayaan masa silam, keragaman, pertemuan…
sebab setiap yang di temui bukan lagi sesuatu yang berpikir [ibn ghifarie]

Cag Rames, Pojok Warnet. 30/07; 05. 00 wib

Apa Jadinya (2)
Oleh Ibn Ghifarie

Apa jadinya, jika para penguasa tak lagi bekerja?
Juga, ia malah tak menjadi pangkuan yang teduh bagi mahasiswa
Mereka hanya becus mencari posisi duduk dan lapak kerja
Memberi warna pada ribuan kepala
Agar kekuasaan tetap digjaya
Agar pikiran hanya satu logika
Agar tindakan bergerak sama
Agar ucapan terpenjara dalam satu kata
Agar bermeter-meter tumpuakn harta

Apa jadinya, jika para pengusa mendewakan politik identitas?
Jika mahasiswa diseragamkan dalam lubang hegemonitas
Tak hanya, kaya harta, tetapi kaya janji tak berbekas
Malah ganas, mendapat kritik pedas
Hanya ambisi midas
Hanya mental malas
Hanya watak culas
Hanya hati panas
Hanya jiwa rampas
Hanya sikap tak tegas


Pojok,Sekre Kere,12/09;21.08 wib


Maka Apalah Artinya
oleh Ibn Ghifarie

Bila malam tak lagi gelap
Maka apalah artinya siang
Bila mulut tak lagi berkata
Maka apalah artinya ucapan
Bila buku tak lagi dibaca
Maka apalah artinya perpustakaan
Bila alam tak lagi indah
Maka apalah artinya ketakjuban
Bila agama tak lagi menjadi rahmatan lil alamien
Maka apalah artinya agama
Bila hidup tak lagi bermakna
Maka apalah artinya kehadiran
Bila Tuhan tak lagi diharapkan
Maka apalah artinya seluruh harapan [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Warnet,30/07;04.28 wib

Kenapa, Kenapa dan Kenapa?
Oleh Ibn Ghifarie

Kenapa, setiap kali terjadi keributan.
Entah atas nama agama?
Entah atas nama ormas?
Entah atas nama pergerakan?
Entah atas nama penyebaran risalah Tuhan?
Entah atas nama kemanusiaan?
Entah atas nama kaum hawa?
Entah atas nama kaum adam?
Entah atas nama harta?
Entah atas nama jabatan?
Entah atas nama daerah?

Yang jelas, perlakuan ganjil itu acapkali terjadi dan akrab dengan keseharain kita
Kenapa mesti terjadi?
Kenapa mesti menimapa kita?
Kenapa mesti baku-hantam?
Kenapa mesti adu-tojos?
Kenapa mesti melanggengakn budaya barbar?
Kenapa mesti kita amaini?
KEnapa mesti kita bela?
Kenapa mesti kita perjuangakn?
Kenapa mesti kita hujat rame-rame?
Kenapa mesti malu berkata tidak?

Bukankah kita generasi muda yang konses terhadap Intelektual dan unggul dalam moral?
Lantas dimanakah letak hati nurani kita?
Lantas dimanakah letak keintelektualitas kita?
Lantas dimanakah jargon membela rakyat kita?
Lantas dimanakah jargon pameo pengubah masanyarakat kita?
Lantas diamnakah letak kebanggaan memperjuangakn kaum lemah kita?
Lantas dimanakah letak penumbas kebatilan kita?
Lantas dimanakah posisi keteladan sebagai pemberantas kezdaliman kita?
Lantas dimanakah posisi menyapa perbedaan diantara kita?
Lantas dimanakah tempat berkumpulnya orang-orang sholeh kita?
Lantas dimanakah tempat berteduh sejenak dari kepenatah hidup kita?

Entahlah……………[Ibn Ghifarie]

Cag Rampes,Pojok Sekere kere,02/10;15.24 wib

Dzikir; Kado Ultah
oleh Ibn Ghifarie

Memang ku akui.
Terkadang aku alfa mengingatmu.
Untuk sekedar berdzikir saja, rasanya berat.
Untuk sekedar ibadah tepat waktu saja, rasanya susah.
Untuk sekedar memuja kebesarmu saja, rasanya tak sempat.

Malah asyik.
Membaca, hingga tak kenal tempat.
Menulis, hingga tak kenal waktu.
Diskusi, hingga tak ada kesimpulan.
Utak-atik Blog, hingga tak kenal lelah.

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 20/01;06.12 wib

Di Tikungan Senja
Oleh Ibn Ghifarie

Di tikungan senja ku temukan sekuntum mawar
Yang tak lagi lagi sekar
Yang tak lagi semerbak
Yang tak lagi memekar

Malah kian menggelepar
Malah kian terkapar
Malah kian terbakar [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Komputer Ngaheng, 02/03;21.48

Kian Pudar
Oleh Ibn Ghifarie

Detik-detik kian memudar
Menit-menit kian berdebar
Jam-jam kian bersandar
Hari-hari kian gemetar
Minggu-minggu kian kelakar
Bulan-bulan kian bertengger
Tahun-tahun kian tak sabar

Semuanya sirna dalam untayan kata
Semuanya lenyap dalam tutur kalimat
Semuanya hilang dalam hitungan waktu
Semuanya ditelan dalam kepongkahan
Semuanya raib di jamah ke laliman [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok komputer Ngaheng, 02/03;21.38 wib

Teruslah Berlarian
Oleh Ibn Ghifarie

Teruslah berlarian
Demi ngengejar mimpi yang tak pernah terwujud
Teruslah berlarian
Demi menggapai cita-cita yang tak kunjung ku raih
Teruslah berlarian
Demi untanyan kata yang tak lagi utuh
Teruslah berlarian
Demi mewujudkan karya yang tak ku genggam

Terus, terus, dan terus berlari
Hingga kealpaan menjadi bagian yang tak terpisahkan lagi
Hingga azal menjadi teman sejati [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Komputer Ngaheng, 2/03;21.29 wib

Milangkala LPIK; 11 Titik

oleh Ibn Ghifarie

Ku akui mengang.
Tak banyak yang ku perbuat

Saat hari bersejarah tiba

Tak banyak yang ku lakukan

Saat bermakna mulai menjemputku

Tak banyak yang sampaikan

Saat hari bahagian mulai mengatuk qalbu

Sekedar ngumpulin kawan-kawan saja, rasanya susah

Sekedar bertukar pengalaman soal memaknai Ultah, rasanya enggan

Sekedar berpesta ria tentang Milangkala, rasanya tak sudi lagi

Sekedar berkarya, rasanya tak mau lagi.

Kini, malash sibuk dengan

Tutur kata tak karuan

Tulisan tak bermakna

Atau malah asyik noton Tom and Jerry

Semuanya tergadai

Demi sepenggal nafsu belaka

Dimanakah cita-cita muliamu

Untuk tetap berbuat

Untuk tetap berkarya

Untuk tetap menjaga

Untuk tetap melanjutkan

Yang terbaik demi lembagamu

Entahlah

Cag Rampes, Sekre Kere, 14/05;00.08 wib

Saat Alfa

Oleh Ibn Ghifarie

Kutulis seluruh kealfaan
Saat mulai enggan menyebut nama-Mu

Saat mulai jauh menginat-Mu
saat mulai redub batin ini bertasbih kepada-Mu

Saat mulai berhadapan dengan murka-Mu

Dipelupuk ke agungan-Mu

Ada seribu pengampunan

Ada seribu kata maaf

Ada seribu kebahagiaan

Ada seribu keceriaan

Kutulis semuanya

Demi meraih cinta-Mu

Demi menggenggam kasih-Mu

Demi bercumbu dengan-Mu

Demi bersemayan di arasy-Mu

Cag Rampes, Sekre Kere, 20/05;12.14 wib

Setapak Sabda

Oleh Ibn Ghifarie

Sabda adalah bahasa qalbu

Sabda adalah ungkapan hati yang suci

Sabda adalah untaian kata yang tulus

Sabda adalah tutur yang teratur

Sabda adalah suara Tuhan.

Cag Rampes, Sekre Kere, 22/05;22.38 wib

Karya Ahmad Sahidin IV (11)

Hening, Terasa Diujung Tanah

Oleh Ahmad Sahidin

iringan keranda sentak aku
memori 12 ramadhan 4 tahun silam kembali
melintas secepat kilat dimataku

diam-diam kedua pipiku basah
ada tetesan cinta dan bakti
terasa koyak uluhatiku

Sumur Tanpa Batas

Oleh Ahmad Sahidin

sedalam apapun sumur pasti berujung
batas yang memisahkan dua bagian

sebesar apapun yang tersimpan dilubuk
harus lebur bersama pengorbanan

demi cinta
demi rindu
demi bahagia

tak pernah kubenci sekejappun
kala sinarmu yang menyentuhku

namun hidupku jauh berbeda
ada nilai yang tak mungkin kuraih

rupiah jadi ukuran
angka jadi hitungan

hari-hariku tak mungkin mengejar itu
pasti karena bukan itu yang kutuju

hakikat hidup penuh cinta
hakikat hidup penuh rindu
hakikat bahagia penuh damai

tiada bukan itu persembahanku
pada Tuhan Yang Mahatertinggi
pada-Mu ya Ilahi

pengorbananku untuk yang rela
bersama meraih bahtera
dalam duka dan nestapa

kuyakin kau dapat yang terbaik
pilihan yang berkuasa padamu

menjadi titik akhir
segala kecamuk rindu bersamamu

pada-Mu ya Ilahi
ampuni noda dan dosaku

Mei 2007

Gumam Makam Cikutra

Oleh Ahmad Sahidin

I
iringan keranda sentak aku
memori 12 ramadhan 4 tahun silam kembali
melintas secepat kilat dimataku
diam-diam kedua pipiku basah
ada tetesan cinta dan bakti
terasa koyak uluhatiku
hening, terasa diujung tanah
II
wajah dan kaki dingin kaku pun beradu ditanah
papan-papan pun ditenggerkan, bersambut urugan
dan hentakan kaki-kaki menginjak
padat tak bersisa celah
papan nama pun terpancang
menancap kokoh jadi batas


II
kisah hidup manusia Tuhan yang punya
sekuat apapun hasrat dan ikhtiar, pasti berakhir
cepat seperti waktu yang menelan sejarah
dan tak ada yang tahu
kapan berada dan bagaimana akhir hidup
sebab kematian tak jauh beda dengan kehidupan

09052007

Yang Tidak Pernah Tahu

Oleh Ahmad Sahidin

mungkin inilah kematian ketika tidak tahu
hal apa yang mesti kuperbuat
hal apa yang mesti kusuguhkan
hal apa yang mesti kukerjakan
hal apa yang mesti kukatakan
hal apa yang mesti kudengarkan
hal apa yang mesti kurasakan
hal apa yang mesti kualami
hal apa yang mesti kupikirkan

saat malam Jumat yang menunggu
kembalinya aku menjadi bangkawarah
setelah menghabiskan waktu bersama buku-buku filsafat
budaya dan sejarah yang kian membutakanku untuk melihat hari-hariku

atau mungkin akulah yang terpilih menjadi
tumbal-tumbal peradaban yang tidak pernah
tahu bahwa diriku tidak tahu

AS/Februari 2004

Sajak Ia

Oleh Ahmad Sahidin

ia di luar ruang-waktu
ia di dalam ruang-waktu

ia melintasi semua
ia memasuki semua

yang ada dan tiada
yang mengada dan meniada

pada ruang dan pada waktu
bahkan pada pena, pada kertas
dan pada mata yang membaca

AS/13 Mei 2004

3 sajak

Oleh Ahmad Sahidin

semalam aku dibawa jalan-jalan
menelusuri gunung dan bebukitan terjal

semalam aku dibawa jalan merambah
jejaki bebatuan dan rerumputan hijau
mendaki dan menerjang yang ada dihadapanku

semalam aku dihidangkan makanan
berbuah akar, putih

semalam aku dituntun berjalan kebebukitan jauh
tak berujung hingga tampak disekelilingku
orang-orang berwajah srigala
orang-orang berwajah babi
orang-orang bermuka masam
memaki dan menghardik diri-sendiri

semalam aku digandeng berjalan tak berhingga
nikmati alam sejuk, goda aku untuk tinggal
bersamanya.

2003

Nyanyian Epos

Oleh Ahmad Sahidin


i
riwayat manusia tak pernah kekal karena riuh
renta tubuh mengancam wujud
dan yang wujud tak lagi ada dan tak akan
pernah sama dengan yang tak berwujud

yang berbeda dengan cipta-karsanya
yang tiada bandingnya. karena dia tak terbatas
dan yang kepuncaknyalah yang jumpa

ii
mendengar suara lantangmu aku tahu
bahwa kau melawan dengan ingatan masa lalu
kau tampakkan dihadapan para perawatmu

kefasihan dan kecemerlangan ilmu yang kau
susun sejak kanak yang terlunta
karena ayahmu diberondong peluru

empat puluh tahun yang lalu hadir kembali
pada usiamu yang senja
kau masih lekatkan tanggung jawab dari dada
dan kepalamu

hingga kau sadar bahwa diusia senjamu
tampak masa kanakmu karena demam hebat
yang begitu membaranya hinga meledak-ledak
pada ingatan yang tak bisa kau kabarkan

iii
mimpi yang diceritakannya padaku
tentang ruang gelap yang tampak begitu saja
sosok berbadan kokoh yang siap menerkamnya
dan saat itu hadirlah segumpal asap putih
menjelma sesosok tubuh perkasa bersayap sinar

dan mereka berhadapan mengadu mulut
mengerang penuh benci, menjamak, memukul
dan menendang satu sama lain

iv
dan seorang wanita setengah baya bercerita
tentang suaminya yang muntah darah
dipembaringan yang gelisah karena batas

ya….rabbi, bagaimana bisa kukabarkan
tentang duka yang tak terduga
saat kau tentukan batas yang tercinta
saat aku butuh arahannya

ya….rabbi, duka apalagi yang akan kau
timpakan padaku,setelah aku tak berdaya
karena waktu telah berlalu

ya….rabbi, bagaimana aku bisa tegar
kembali menatap masa tanpa seorang tercinta
yang sekejap pergi jauh tinggalkan aku

ya…..rabbi, kurela dan sadar
bahwa hidup ada diujung jari-mu

allhumaghfirlahu warhamhu wa ’afihi wa’fuanhu

November 2003

Ayahku, In Memoriam

Oleh Ahmad Sahidin

ayah, ibu pernah cerita tentang masa kanakku
yang bengal, sampai celanamu kubasahi berak
dipangkuanmu saat mudik ke kampungmu,

atau ketika ramadhan yang kau bebaskan
agar aku tak berpuasa penuh,
disiang yang terik kau belikan buah belimbing
yang kusantap dihadapanmu

ayah, bagaimana ku tak bisa menahan
tangisanku
karena air mataku adalah cucuran keringatmu,

” jang mun anggeus hiji pagawean,
anggeuskeun nu lainna”.
nasehatmu padaku yang menegaskan bahwa
hidup adalah amanat

November 2003

Tak Terduga

Oleh Ahmad Sahidin

amarah, lagi-lagi tak habis kuredam
betapa sulitnya tenang dalam kondisi terbebani
berat terasa dan tak kuasa
jalani hidup serba terbatas
Tuhan mungkin sedang uji aku

angkat derajatku

benarkah? entahlah

kadang kita harus menerima
kenyataan yang tak sesuai dengan keinginan

sakit, sedih, atau kecewa
harus diterima walau sulit

karena memang itulah hidup
tak terduga

AS/April 2007

Malam

Oleh Ahmad Sahidin

Malam yang kutunggu dikegelapan
Sebentar lagi tiba
Bersama nyanyian di peraduan

Mimpi

Saling buktikan diri
Menyatu dalam dahaga

Nikmat

Itulah yang pasti
Tak seorangpun sangkal

2205207

Kabar Yang Terkapar

Oleh Ahmad Sahidin

diam-diam kau masuk
jegal yang lama hinggap
hingga kaburkan aku darinya

mungkin ini jalan cerita lain
harus kuakui, kebaikanmu pacu aku melaju
tempuh jarak dan waktu yang perlahan

kuraih bersamamu

seperti takdir yang tak pernah diundang
tiba kabarkan pergulatan hidup

seolah-olah tiada yang pantas
seakan-akan tiada yang harus kugapai

merengkuh, mereguk nikmatnya derita
dari hidup yang diberikan Tuhan

padaku, padamu, dan pada tiap makhluk

namun hidup bak ombak menggulung pepasir
dan busa-busa putih pun berguling-guling terjang pantai

ambruk, basah

hanya kabar yang tersiar
ada yang terkapar

AS/Mei 2007

Karya Johan Sidik Kantara (11)

Aku disini

Oleh Johan Sidik Kantara

Angin kecil mengayun kerinduan tentangmu
Terlihat wajah bercahaya menguak rindu dipesisir hatiku
Satu senyum kucuri dikejauhan kusimpan dalam hati
Mata yang indah penuh tandatanya
Mungkinkah kau lempar sapa tulus menjahit resah kerapuhan

Yang membelit palung jiwa yang kini berserakan
sampai aku tak sanggup lagi menahan rindu
Disini ditemani sunyi penuh
bercumbu bayangmu pada pesona
sampai langit jiwa retak

lalu kucoba tafsir remang tentang perasaan
oleh ketulusan yang sedikit tersisa
aku yang jauh darimu
tapi aku dekat dengan cintamu
padamu disini aku penuh

Aku yang

Oleh Johan Sidik Kantara

Kini kugantungkan rinduku
Padamu sambil merayap kucoba selami lautan kasihmu
Semoga tak kelam
Kini kucoba walu luka dan nyeri menguliti diriku sendiri

Dirimu adalah jiwamu
Yang sulit kutafsir seperti bebatuan malam
Yang menggantung dalam palung jiwaku
Sampai saraf dadaku mengejah kembali
Tentang asmara dibalik cintamu

Kau sangat berharga

Oleh Johan Sidik Kantara

Satu bintang berkelip cahaya
Bersinar kearah bumi mati
Kutatap matamu, sorotnya kearah hati
Dada ini, bagaikan merapi berhaburan kawah panas
Diriku sesak, penuh dengan harap pada kerinduan yang mati


Yang menunggu terbelenggu
Diriku kini memusat pada arahmu
Tapi tak ada lagi selain berusaha
Mendongkrak perlahan dirimu yang membatu
Dengan doa dan ayat-ayat cinta
Demi kesungguhan
Aku menyukaimu penuh

Sebersit senyum

Oleh Johan Sidik Kantara

Senyummu penghargaan terindah
Senyummu membuat rindu meresah
Senyummu diam dihatiku
Senyummu terjaga selalu
Senyummu semoga menyatukan diriku dan dirimu
Senyummu menjadi detik-detik yang kutunggu
Senyummu kehangatan jiwaku
Senyummu kuharap selalu

‘Kau, Ayat-Ayat Perindu

Oleh Johan Sidik Kantara


Sesosok dirimu menjadi paragrap
Menjadi rima dalam puisi
Kutafsir bagai ayat- ayat mati
Menjadi hadis penerjemah wahyu
Langkahmu menjadi artefak-artefak
Kugali, kujengkali
Seraya berusaha meyakinkan pada naluri
Bahwa aku
Kini aku menjadi nabi bagimu
Memuja dengan hasrat
Berdoa dalam bisu untuk segurat senyum
Taukah kau, pujaku!


Kini seurai rambutmu,

Sekedip matamu, selebat bulu alismu, sepikuk hidungmu, segurat tebing wajahmu, sepeka telingamu. Semua, seonggok daging bersosok dirimu,
Dan wahyu bagi seorang gembel


Ayat-ayat dirimu kuhapal, ku-kumpulkan,
Kubaca, agar tak lupa
Dan, akan kuberi tahu pada dunia semampu aku punya
Bahwa, aku menyukaimu!
Jauh dari yang kau tahu
Agar aku, kau, abadi
Dalam tulis yang tak rapi
seliar kau memilih pendamping hati.

Disimpang Jalan Bisu

Oleh Johan Sidik Kantara


Siang menatah resah
Matahari menggantung diharapan semu
Kuukir hari dengan tinta air mata
Daki semakin pekat dikulit coklat
Lamun bergoyang
Menghantam pilu, nyeri di urat nadi
Diam kupaku kecewa


Di iringan sesak detik kejamnya iri
Sumpah serapah tak lagi dibaca
Doa tak lagi menjadi wewangi bunga
Dedaun terus tumbuh dalam putaran cuaca
Cakrawala menjadi tangis kerapuhan


Dada menjadi lautan pasir sesal
Hati menjadi sejarah hitam yang terlupakan
Langkah tinggal lelah dipersimpangan
Mulut hanya menjadi bungkusan kosong
Pada untaian jingga dilangit harap
Mengendap seluruh rasa asa
Dipalung hening kelam dalam bingung
Aku menjadi diriku!
Namun akhirnya resah dan entah.

Wahai Entah

Oleh Johan Sidik Kantara


Wahai

Aku di sini, dikelilingi seurai bayang,
Tentangmu. AKU…
Kini, kalut menyelimuti pikir
Berbuah patahan-patahan kata luka
Entah.
Tentangmu…aku…patah arah


Wahai
Masih tatap kusandarkan,
Tentang rindu walau bias dan abu,
Aku, semakin semu kelabu
Mencoba Berkiblat,
padamu terlelap menancap lelah


Wahai
Tetaplah disana,
Dengan tegasmu, buang tulusku
Pada tong sampah resah.


Wahai

Tetaplah disana,
Jangan toleh aku, yang semakin sakit parah
Harus kau tau,
Sakit ini bukan karenamu…
Tapi separuh sebab meguak tulus dalam jiwa


Wahai
Bukan karenamu, aku…gila,
Tapi, kerena perasaan tulus padamu, membuatku lebih gila

Aku Entahkan Doa

Oleh Johan Sidik Kantara


Sehelai doa dipersimpangan jalan
Menjadi setumpuk sampah busuk
Dipandang enggan, cemas, lesu, penuh beban.
Seraut beban itu jujur, menjadi coretan-coretan malam
Menjadi sesajen diatas altar kebisuan
Menjadi ujung dilabirin keheningan
Tetap menggantung dilangit harapan

Yang Kehausan Dan Kelaparan Oleh Kebenaran

Oleh Johan Sidik Kantara

Tuhan

Kini aku berontak dalam guratan takdirmu

Yang penuh dengan dosa

Tapi dosa bukanlah sebuah kekalahan

Namun kekuatan untuk bertaubat

Dalam ke esaanmu

Yang dapat menghentikan ruang dan waktu

Tuhan

Kini aku, kau Tuhanku

Yang dapat menghentikan kesunyian

Diantara kita

Tanpa awal

Tanpa akhir

Thufail

Oleh Johan Sidik Kantara

Jiwa

Jiwa universal

Sesuatu

Jiwa

Yang membuat hidup

Jiwa

Jiwa partikular

Adalah jiwa

Jiwa, jiwa dan jiwa

Yang akn kembali ke jiwa-jiwa universal

Kampusku

Oleh Johan Sidik Kantara

Kampusku

Gudang busuk yang menjijikan

Kampusku

Adalah proyek basah

Kampusku

Libido politik uang

Kampusku

Kampus palsuku

Kampusku]

Pemikir-pemikir palsu

Membangun infrastruktur

Dan menejemen setan yang keliru

Karya Sutisna (11)

Puisi Malam

Oleh Sutisna

Daun kering berjatuhan dari rantingnya

Terhempus badai pasir yang mengaung

Meluluhkan kedamain dunia yan baru tercipta

Singgasana malam merintih dalam kesunyia

Terdiam dalam berjuta bahasa

Ditikan oleh panasnya nafsu dunia

Hanya bisa pasrah pada sang takdir

Yang merengguk kebebasanya

Yang menikam dengan jeruji-jeruji kebenaran

Atas nama cinta

Atas nama agama

Atas nama kemanusiaan

Dirimu dianiaya

Sang Dewi

Oleh Sutisna

Senyummu membalut luka dijiwamu

Yang lama diterjang bala tentara kejahatan cinta

Bara api kedurjanaannya

Mencengkram jiwa-jiwa manusia

Menjerat hingga dibuatnya tak berdaya

Bangkitlah

Hadapi kekjaman dunia dengan rengkuhan cinta

Kalahkan setanisme yang ada didirimu

Berdirilah

Wahai sang dewiku

Berhati lembut

Oleh Sutisna

Gerimis malam jatuh didedaunan

Mengiring mimpi-mimpi menuju keindahan

Kala siang panggung derita terus menghantam

Di perempatan kehidupan umat manusia

Berkati dunia

Oh yang maha agung

Sinari cahaya dirinya dengan cintaMu

Karena ia berhati lembut

Selalau merindukan wajahnya pada sesama

Kekasihku

Oleh Sutisna

Jangan merasa sendirian dalam hidup

Duhai kekasihku

Derita yang engkau tanggung

Adalah perjalanan hidup

Senja kala engkau pun akan tersenyum

Melihat mimpi-mimpimu menjadi kenyataan

Pandanglah air sungai yang mengalir

Air mengalir mengikuti tempat

Serta kehadiranya dinantikan

Oleh segenap mahluk

Bercerminlah pada air

Cincin

Oleh Sutisna

Gemerlapnya sutra di pikiranmu

Menutup kepedihanmu

Yang penuh dengan perih

Engkau tak rela ditelan harimau yang lapar

Yang setiap saat dihadapanmu

Tataplah keadaan cinta yang kau miliki

Jangan merengek pada kehidupan

Hadapilah dunia apa adanya

Berjuang, berjuang dan berjuanglah

Perjalanan

Oleh Sutisna

Siapa menyangkal takdir telah mengungkung kita

Tak disadari hidup penuh dengan bumbu-bumbu kepalsuaan

Aromanya adalah janji-janji manis

Akankah dirimu selalau ditikam sang takdir

Akankah engkau bangkit

Atau malah terdiam

Hingga engkau mati konyol

Segera bangkit sebelum terlambat

Sang fajar telah menantimu

Kehalusan segera datang

Menjelma menjemputmu

Kemarilah

Oh sang waktu

Aku merindukanmu

Kelam

Oleh Sutisna

Dunai bagaikan dalam onggokan tong sampah

Penindasan selalu datang menghantam

Ia tak peduli siapa yang ada dihadapannya

Mukanya merah kelabu

Bibirnya selalu melafalkan asma Tuhan

Kejahatanya sangat licin

Ia memperdayai orang-orang dengan dalih agama

Menjual aya suci demi kekuasaan

Dunia kini menuju kehancuran

Tindakan biadab bagai barang mainan

Dipermaikan dan selalau dipermaikan

Hidup pun adalah permainan

Amparan Katineung

Oleh Sutisna

Dalingding asih dimumungung gunung

Ngahibaran sagara rasa nu teu wasa

Nyingahareupan guligahna panghareupan

Duriat manteng ngagalindeng

Nganteurkeun lamunan ka alam maya

Ngajak lalyaran dina amparan kembang hareupan

Nu kiwari tinggal carita

Pupujaning Ati

Oleh Sutisna

Renggat galih nu katampi

Milari kaasih nu teu ngajadi

Neangan pangdumukan rasa

Ka diri nu tunggelis

Ngabebenah diri ku keclakna cimata

Inget gesan diri nu teu ngajadi

Rusak di teureuy anak zaman

Urang muja sukur ka sanghyang widi

Maca tasbih sareng kalimat tahmid

Ngeusian hate anu sumpek

Ku rupa-rupa pasualan dunya

Galuh Katresna

Oleh Sutisna

Wewejaning ati nu ngesian geurenteus hate kahirupan

Panggupay rasa

Panggugah carita kaputus asaan

Sabobot sapihanean mangrupi tatanan hirup

Pamo ulah kabawa-bawa ku ala massa

Komo deui kajurung ku hawa nafsu ngumbar amarah

Matak pegat di tengah jalan

Nafsu matak kaduhung

Badan nu katempuhan

Kadeudeuh

Oleh Sutisna

Lir ibarat cai ibun nu ragrag ka patanaman

Niisan ka kembang anu sumedang ligar

Mihareup pangjajap kadeudeuh anu pageuh

Nancep moal ingkah balilahan

Moal sakoneng daun pare

Jujunan pupunden asih

Tebih jauh kalangitan

Anggang bulan ka bentang

Sagara rasa teuwae sirna

Nyeceh pageuh dina fikir

Nu hiji waktu bakal di ukir

Karya Tedi Taufiqrahman (11)

Sajak Belajar Vandal

Oleh Tedi Taufiqrahman

Ada agama sedang menangis di pojok rumah

Menjerit melihat para penganut mencacah

Ajaran doktrin dan dogma dengan pongah

Ada agama sedang melamun melihat

Nasib bangsa yang dipenuhi dengan para pengkhianat

Penjilat mengerat ayat-ayat suci dengan lahap

Ada agama sedang melayang-layang mengabut di langit

Ada agama sedang meringkuk di balik jeruji

Penjara habis dihantam dibekuk dipukuli

Oleh para aparat tentara dan polisi

Agama tak punya lagi identitas

Tak memiliki wajah

Bisa dijual belikan hanya untuk segunduk uang kertas

Menjadi mantra sumpah serapah

Mengusir hantu dedemit kuntilanak beserta keturunannya

Agama bisa ditemukan di mall swalayan bahkan di pelacuran

Menjadi bahan legitimasi segala hal

Mengobral fatwa halal haram

Dari makanan, kondom sampai dildo

Mengumbar nafsu dan libido

Kekuasaan ketamakan

Munafik

Oleh Tedi Taufiqrahman

Kenapa tak langsung saja kau sebut

anjing

Tak perlu ditutup-tutupi dengan

gonjang-ganjing

Bahkan argumentasi ilmiah berbau pesing

Kenapa tak langsung saja kau hujat

anjing

Tak perlu dimanis-manis dengan

teori-teori batang penis

Daripada panjang-panjang tak dimengerti

Lebih baik pendek berarti

Misalnya

Testis.

Kenapa tak langsung saja kau caci

anjing

Tak perlu dibungkus ayat-ayat suci

Tentang ajaran ramah dan sejarah para nabi

Semua mejadi terkesan recehan

Dan bau tai babi

Kenapa tak langsung jawab

Anjing

Daripada munafik

Seperti gundik kelihatan cantik

Padahal rujit

Kenapa tak langsung saja kau berubah

jadi anjing

Punya, ekor, berliur memiliki taring

Biar aku gampang memilah

Yang mana anjing

Yang mana babi

Yang mana bagong

Yang mana manusia

Yang mana maha

Ternyata kita lebih suka yang sedap-sedap

Dimuka dan dikhianati

Daripada mendengar perih dan sakit

Setidaknya ada harap

Meski jiwa kita kronis kurapan

Ternyata mental kita terganggu

Jiwa kita busuk

Ini hidup

Oleh Tedi Taufiqrahman

Ini hidup kawan

Bukan sinteron yang sering kau tonotn

Selalu kau menjadi arjuna

Berakhir bahagia …hah

Nonsens

Hidupmu adalah pergulatan

Tanpa upaya tak akan kau berjaya

Lihatlah alam sekitar

Makhluk mengejek tapi kau merengek

Mau jadi apa

Tatkala fenomena tak relevan dengan idealita

Jangan kau terhenyak

Karena sudah biasa

Harusnya kau katakan pada mereka

Inilah ironi dunia tak bisa tuk mengelak

Kidung lirih

Oleh Tedi Taufiqrahman

Telah sering ku senandungkan

Syair pengaduan

Degan segumpal pengharapan

Keulayangkan

Namun dapat terhiyng

Kini luka benar tubuhku

Tercabik dikoyak oleh realita

Kenyataan itu memang pahit

Mendesak, menuntut bahkan mendepakku

Susah memang

Naik banding ke alam kosmologi

Tak berawal tak kunjung berhenti

Tak nyata dalam realita

Namun pasti dalam fenomena

Kidung lirih kusenandungkan.

Sepongkag nafsu

Oleh Tedi Taufiqrahman

Tatkala tangan dunia terngangah

Tatkala kepala dunia terperangah

Bermandikan keluh kesah

Berselimutkan gelisah

Tak berdaya

Kemudian terlambat memang

Menggantungkan tanpa gantungan

Mengendarai tanpa kendaraan

Semua umat berkata bodoh tolol

Memang konyol

Kasat mata tak terlihat

Sembilu jiwa menunggu

Hal yang tak terpadu. Tak menyatu

Bodoh memang tapi kupercaya

Secuil keajaiban ‘kan menolongku

Lolongan anak muda

Oleh Tedi Taufiqrahman

Tetesan air mata darah

Mengalir deras di pipi

Menjadi orang yang tak berarti

Tubuh renta membanting tulang

Hanya untuk sekeping uang

Duduk termangu seperti orang dungu

Menangis tersedu

Terus dan tiada henti mengadu

Tak bisa menolong

Hanya bisa menggonggong dan melolong

Harap mereka tahu

Tak ada yang bisa kubantu

Meringankan beban menyimpan perih

Suatu hari nanti hari akan tiba

Saat aku berjaya sampai akhir usia

Gunungan kemusykilan

Oleh Tedi Taufiqrahman

Hutan rimba yang menggana

Lautan tak terawasi

Kemegahan tak terhingga

Keagungan tak berbatas

Namun apakah sudi

Turunkan keajaiban

Hanya setitik kan mengubah

Seluruh hidup umat manusia

Disini diriku mengemis

Padamu… hanya padamu

Sudi layarkan kemusthilan

Diantara akal realita fenomena

Biarkan terhenyak

Dengan satu keajaiban di realita zaman

Akhirku

Oleh Tedi Taufiqrahman

Tempatku memuja

Segala rasa tercurah

Bagi semua pendosa

Dengan jalan yang di kehendaki

Tempatku berserah

Kembali pada pasrah

Tuhanku

Kuasa akan darahku

Merambah pada semua

Akankah sintuh qalbu

Sampai jadi abu

25 Januari 2006

Tak Henti Selalu

Oleh Tedi Taufiqrahman

Setiap temu denganmu

Senyap sangsi hilang berlalu

Pertanda gambaran hatiku

Telah melukis mukamu

Dalam taman jiwaku

……?……

Tujuku tak kan henti meski termakan waktu

Selalu aku mendambamu

Setiap merindumu

Hanya kata tertulis untukmu

Pada malam hanya bisa mengadu

Kapan bersatu…

Camp The End,

29 Januari 2006

Kosong

Oleh Tedi Taufiqrahman

Tak ada yang terlihat

Begitu pula tak terjamah

Semua terasa hampa

Lemah termamah…

Hanya meragu pada ketika

Di saat pada

Aku merasa

Taman UIN SGD, 01 Februari 2006

Sabtu Pagi

Oleh Tedi Taufiqrahman

Tak ada yang dapat ku tulis

Selain menulis namamu

Tak ada yang dapat ku ucap

Selain mengucap menyayangimu

Tak ada yang dapat ku lihat

Selain melihat bayang wajahmu

Tak ada yang bisa mengalahkanmu

Sampai senyummu rasuk dalam sukmaku

04 Februari 2006

Karya Didin Syarifuddien (3)

Perjalanan Tanpa Peta

Oleh Didin Syarifuddien

Hujan yang teriris lampu

Itu mengingatkanku pada sisa

Perjalanan ketika kau mengucapkan

Deru, lirih

Bahwa cuaca telah menghilangakn sebuah huruf

Yang pernah kita susun perpisahan

Sunyi

Lalu ku beri engkau sebuah pisau dan selembar perjalanan tanpa peta

Petak Sayap

Oleh Didin Syarifuddien

Wajah-wajah hitam tanpa masa depan

Berarak melingkari nasib hitam

Mereka dibunuh air mata sendiri

Sebab sang begawan adalah lirih

Kematian di negeri ini

Kami bagaikan laron

Setiap petak sayap adalah tetesan ajal yang ditakdirkan

Kelahiranya sendiri

Ayat-Ayat Jalang

Oleh Didin Syarifuddien

Sair-sair darah meruak

Di sudut kata

Membangunkan keheningan

Dari perut-perut yang berbunyi

Tentang negeri di ujung senja

Melipat kemiskinan dalam catatan harian

Sedang di meja makan

Dasi-dasi penghisap darah

Berdebat tentang dunia

Kita adalah ayat-ayat jalang

Karya Fardi (3)

Untain Jaring Laba-Laba

Oleh Fardi

Siang datang mengaung

Dari pelupuk mata

Menambah nyeri dan perih hati

Penantianku bagai laba-laba yang sedang merajut untaian jaring yang siap di hinggapi kenikmatan

Pijar Ayat-Ayat Yang Sama

Oleh Fardi

Hitam kelam dalam kegelapan malam

Ku adalah ranah yang ditemani oleh gemercik air hujan

Yang datang seperti sabda Tuhan

Yang mengalir menunggu

Cahaya-cahaya kebahagiaan yang datang

Dari pijar ayat-ayat yang sama

Cahaya Dunia

Oleh Fardi

Kala menara air

Bernama cinta

Menara cinta pun

bernama batu

tak tamu tak bertemu

bermimpi dalm mimpi

dalam kelam malam

ada suara panas dan cahaya dunia pun

menjadi lembab

Anwar Khoerudin (1)

Harapanku Sudah Padam

Oleh Anwar Khoerudin

Sejengkal tanah berpetak

Meninggalkan jejak yang retak

Di isi hari-hari yang suram

Harapanku sudah padam

Kontributor

Pradewi Tri Chatami, mahasiswa Psikologi Fakultas Psikologi UIN SGD Bandung dan aktif di LPIK sebagai anggota Divisi Jurnalistik

Badru Tamam Mifka, mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung dan mantan Ketua Umum LPIK periode 2006/2007

Ibn Ghifarie, mahasiswa Studi Agama-Agama Fakultas Filsafat dan Teologi UIN SGD Bandung dan mantan Sekretaris Umum LPIK periode 2003/3004

Johan Sidik Kantara, mahasiswa Menejemen Keuangan Syariah (MKS) Fakultas Syariah dan Hukum UIN SGD Bandung dan Koord Divisi Seni dan Budaya LPIK periode 2007/2008

Ahmad Sahidin, mantan ketua umum LPIK periode 2002/2003 dan editor di majalah Swadaya MQ

Didin Syarifuddien, mahasiswa Sosologi fakultas Filsafat dan Teologi UIN SGD Bandung dan mantan koord Divisi Metodologi dan wacana periode 2004/2005

Fardi, mahasiswa Sosologi fakultas Filsafat dan Teologi UIN SGD Bandung dan anggota Divisi Seni dan Budaya

Periode 2007/208

Sutisna, mahasiswa Aqidah Filsafat fakultas Filsafat dan Teologi UIN SGD Bandung dan anggota Divisi Seni dan Budaya Periode 2007/208

Anwar, mahasiswa Sosologi fakultas Filsafat dan Teologi UIN SGD Bandung dan anggota Divisi Seni dan Budaya Periode 2007/208

Tedi Taufiqrahman, mahasiswa Sosologi fakultas Filsafat dan Teologi UIN SGD Bandung dan Ketua Umum LPIK Periode 2007/208

Kategori: Karya