Entries categorized as ‘Karya’
karya (27)
Juni 4, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar
Karya Ahmad Sahidin
3 sajak | Ayahku, In Memoriam | Gumam Makam Cikutra | Hening, Terasa Diujung Tanah | Kabar Yang Terkapar | Malam | Nyanyian Epos |
Sajak Ia | Sumur Tanpa Batas | Tak Terduga | Yang Tak Pernah Tahu
3 sajak
Oleh Ahmad Sahidin
Semalam aku dibawa jalan-jalan
Menelusuri gunung dan bebukitan terjal
Semalam aku dibawa jalan merambah
Jejaki bebatuan dan rerumputan hijau
Mendaki dan menerjang yang ada dihadapanku
Semalam aku dihidangkan makanan
Berbuah akar, putih
Semalam aku dituntun berjalan kebebukitan jauh
Tak berujung hingga tampak disekelilingku
Orang-orang berwajah srigala
Orang-orang berwajah babi
Orang-orang bermuka masam
Memaki dan menghardik diri-sendiri
Semalam aku digandeng berjalan tak berhingga
Nikmati alam sejuk, goda aku untuk tinggal
Bersamanya.
2003
Ayahku, In Memoriam
Oleh Ahmad Sahidin
Ayah, ibu pernah cerita tentang masa kanakku
Yang bengal, sampai celanamu kubasahi berak
Dipangkuanmu saat mudik ke kampungmu,
Atau ketika ramadhan yang kau bebaskan
Agar aku tak berpuasa penuh,
Disiang yang terik kau belikan buah belimbing
Yang kusantap dihadapanmu
Ayah, bagaimana ku tak bisa menahan
Tangisanku
Karena air mataku adalah cucuran keringatmu,
” Jang mun anggeus hiji pagawean,
Anggeuskeun nu lainna”.
Nasehatmu padaku yang menegaskan bahwa
hidup adalah amanat
November 2003
Gumam Makam Cikutra
Oleh Ahmad Sahidin
I
Iringan keranda sentak aku
Memori 12 ramadhan 4 tahun silam kembali
Melintas secepat kilat dimataku
Diam-diam kedua pipiku basah
Ada tetesan cinta dan bakti
Terasa koyak uluhatiku
Hening, terasa diujung tanah
II
Wajah dan kaki dingin kaku pun beradu ditanah
Papan-papan pun ditenggerkan, bersambut urugan
Dan hentakan kaki-kaki menginjak
Padat tak bersisa celah
Papan nama pun terpancang
Menancap kokoh jadi batas
II
Kisah hidup manusia Tuhan yang punya
Sekuat apapun hasrat dan ikhtiar, pasti berakhir
Cepat seperti waktu yang menelan sejarah
Dan tak ada yang tahu
Kapan berada dan bagaimana akhir hidup
Sebab kematian tak jauh beda dengan kehidupan
09052007
Hening, Terasa Diujung Tanah
Oleh Ahmad Sahidin
Iringan keranda sentak aku
Memori 12 ramadhan 4 tahun silam kembali
Melintas secepat kilat dimataku
Diam-diam kedua pipiku basah
Ada tetesan cinta dan bakti
Terasa koyak uluhatiku
Kabar Yang Terkapar
Oleh Ahmad Sahidin
Diam-diam kau masuk
Jegal yang lama hinggap
Hingga kaburkan aku darinya
Mungkin ini jalan cerita lain
Harus kuakui, kebaikanmu pacu aku melaju
Tempuh jarak dan waktu yang perlahan
Kuraih bersamamu
Seperti takdir yang tak pernah diundang
Tiba kabarkan pergulatan hidup
Seolah-olah tiada yang pantas
Seakan-akan tiada yang harus kugapai
Merengkuh, mereguk nikmatnya derita
dari Hidup yang diberikan Tuhan
Padaku, padamu, dan pada tiap makhluk
Namun hidup bak ombak menggulung pepasir
Dan busa-busa putih pun berguling-guling terjang Pantai
Ambruk, basah
Hanya kabar yang tersiar
Ada yang terkapar
Mei 2007
Malam
Oleh Ahmad Sahidin
Malam yang kutunggu dikegelapan
Sebentar lagi tiba
Bersama nyanyian di peraduan
Mimpi
Saling buktikan diri
Menyatu dalam dahaga
Nikmat
Itulah yang pasti
Tak seorangpun sangkal
2205207
Nyanyian Epos
Oleh Ahmad Sahidin
i
Riwayat manusia tak pernah kekal karena riuh
Renta tubuh mengancam wujud
Dan yang wujud tak lagi ada dan tak akan
Pernah sama dengan yang tak berwujud
Yang berbeda dengan cipta-karsanya
Yang tiada bandingnya. karena dia tak terbatas
Dan yang kepuncaknyalah yang jumpa
ii
Mendengar suara lantangmu aku tahu
Bahwa kau melawan dengan ingatan masa lalu
Kau tampakkan dihadapan para perawatmu
Kefasihan dan kecemerlangan ilmu yang kau
Susun sejak kanak yang terlunta
Karena ayahmu diberondong peluru
Empat puluh tahun yang lalu hadir kembali
Pada usiamu yang senja
Kau masih lekatkan tanggung jawab dari dada
Dan kepalamu
Hingga kau sadar bahwa diusia senjamu
Tampak masa kanakmu karena demam hebat
Yang begitu membaranya hinga meledak-ledak
Pada ingatan yang tak bisa kau kabarkan
iii
Mimpi yang diceritakannya padaku
Tentang ruang gelap yang tampak begitu saja
Sosok berbadan kokoh yang siap menerkamnya
Dan saat itu hadirlah segumpal asap putih
Menjelma sesosok tubuh perkasa bersayap sinar
Dan mereka berhadapan mengadu mulut
Mengerang penuh benci, menjamak, memukul
Dan menendang satu sama lain
iv
Dan seorang wanita setengah baya bercerita
Tentang suaminya yang muntah darah
Dipembaringan yang gelisah karena batas
Ya….rabbi, bagaimana bisa kukabarkan
Tentang duka yang tak terduga
Saat kau tentukan batas yang tercinta
Saat aku butuh arahannya
Ya….rabbi, duka apalagi yang akan kau
Timpakan padaku,setelah aku tak berdaya
Karena waktu telah berlalu
Ya….rabbi, bagaimana aku bisa tegar
Kembali menatap masa tanpa seorang tercinta
Yang sekejap pergi jauh tinggalkan aku
Ya…..rabbi, kurela dan sadar
Bahwa hidup ada diujung jari-mu
Allhumaghfirlahu warhamhu wa ’afihi wa’fuanhu
November 2003
Sajak Ia
Oleh Ahmad Sahidin
Ia di luar ruang-waktu
Ia di dalam ruang-waktu
Ia melintasi semua
Ia memasuki semua
Yang ada dan tiada
Yang mengada dan meniada
Pada ruang dan pada waktu
bahkan pada pena, pada kertas
dan pada mata yang membaca
13 Mei 2004
Sumur Tanpa Batas
Oleh Ahmad Sahidin
Sedalam apapun sumur pasti berujung
Batas yang memisahkan dua bagian
Sebesar apapun yang tersimpan dilubuk
Harus lebur bersama pengorbanan
Demi cinta
Demi rindu
Demi bahagia
Tak pernah kubenci sekejappun
Kala sinarmu yang menyentuhku
Namun hidupku jauh berbeda
Ada nilai yang tak mungkin kuraih
Rupiah jadi ukuran
Angka jadi hitungan
Hari-hariku tak mungkin mengejar itu
Pasti karena bukan itu yang kutuju
Hakikat hidup penuh cinta
Hakikat hidup penuh rindu
Hakikat bahagia penuh damai
Tiada bukan itu persembahanku
Pada Tuhan Yang Mahatertinggi
Pada-Mu ya Ilahi
Pengorbananku untuk yang rela
Bersama meraih bahtera
Dalam duka dan nestapa
Kuyakin kau dapat yang terbaik
Pilihan yang berkuasa padamu
Menjadi titik akhir
Segala kecamuk rindu bersamamu
Pada-Mu ya Ilahi
Ampuni noda dan dosaku
Mei 2007
Tak Terduga
Oleh Ahmad Sahidin
Amarah, lagi-lagi tak habis kuredam
Betapa sulitnya tenang dalam kondisi terbebani
Berat terasa dan tak kuasa
Jalani hidup serba terbatas
Tuhan mungkin sedang uji aku
Angkat derajatku
Benarkah? entahlah
Kadang kita harus menerima
Kenyataan yang tak sesuai dengan keinginan
Sakit, sedih, atau kecewa
Harus diterima walau sulit
Karena memang itulah hidup
Tak terduga
April 2007
Yang Tidak Pernah Tahu
Oleh Ahmad Sahidin
Mungkin inilah kematian ketika tidak tahu
Hal apa yang mesti kuperbuat
Hal apa yang mesti kusuguhkan
Hal apa yang mesti kukerjakan
Hal apa yang mesti kukatakan
Hal apa yang mesti kudengarkan
Hal apa yang mesti kurasakan
Hal apa yang mesti kualami
Hal apa yang mesti kupikirkan
Saat malam Jumat yang menunggu
Kembalinya aku menjadi bangkawarah
Setelah menghabiskan waktu bersama buku-buku filsafat
Budaya dan sejarah yang kian membutakanku untuk melihat hari-hariku
Atau mungkin akulah yang terpilih menjadi
Tumbal-tumbal peradaban yang tidak pernah
Tahu bahwa diriku tidak tahu
Februari 2004
Karya Badru Tamam Mifka
Beratus Tahun Bebaring | Berita Zaman | Di Negeri Ini Cinta Digusur Kekuasaan | Doa Yang Tercatat | Di Tikungan Jalan | Dik, Ini Juga Untukmu | Dzikir Satu | Inti Rindu Diriku | Jalang | Jika | Setapak Tanda.
Beratus Tahun Bebaring
Oleh Badru Tamam Mifka
Malam bangkit Heningnya tegak seperti alif
Seorang lelaki tersuruk di mata malam
Ada teriak yang berulangkali dipendam
Ia bangkit dan memulai kesedihannya
dengan nyanyi sunyi, lalu doa-doa yang demikian terbuka
Tetapi berulangkali ia terluka, terlunta:
“…haruskah aku menjahit bibirku agar tak diteriakkan lagi puisi
paling sepi yang kelak begitu mudah
menajamkan pedih didadaku?”
Lelaki itu perlahan rebah—beratus tahun terbaring
Tuhan, malam bangkit, lelaki itu kelak
tak bangkit kembali. Hening
November 2006
Berita Zaman
Oleh Badru Tamam Mifka
Ada ribuan berita melata diantara
hati yang terbakar dan bumi yang tercemar
Seperih mata, mulut kecut
dan kulit yang sakit, kita mendengar suami
membunuh isteri, isteri membunuh suami
dan penduduk yang menghisap
racun-racun limbah industri
200 juta rakyat sekarat
diantara keserakahan pejabat-pejabat
yang korupsi dan kematian perlawanan puisi
Masyarakat diancam kekerasan, dihantui kelaparan
dan dijerat penipuan
Populasi penduduk bengkak dan ambisi
berdesak-desak saling gasak
Undang-undang berbusa-busa ditindih
kaset-kaset palsu, VCD porno bajakan,
obat-obat oplosan dan uang palsu
Ada ternak diberi minum banyak
oleh pedagang-pedagang daging yang tamak
Agama juga dibuang di tong sampah,
dikerubuni lalat-lalat dipinggir jalan
Di kaca televisi orang membincang
skandal dan sex bebas
Ibu-ibu muntah melahap sinetron
Setiap hari penjahat-penjahat menguasai berita
Ketakutan-ketakutan menyelimuti jam dinding
Ada anak-anak kekurangan gizi
Ada antrian pembeli minyak tanah yang langka
Orang-orang miskin kehilangan nafkah dan rumahnya
Banjir dan lumpur panas menenggelamkannya
Menenggelamkan kesejahteraan
Membenamkan harapan
Dinegeri ini,
Ada kecurangan dalam pembangunan
Ada keji dalam janji-janji
Ketika pemerintah bukan lagi pembawa amanah
Ketika ulama bukan lagi peyambung agama
Ketika kejaksaan jadi komplotan
Ketika polisi jadi gadungan
Ketika pengajar jadi kurang ajar
Ketika manusia bukan lagi manusia
Ketika manusia lenyap dimabuki fantasi
O, zaman edan
Kita hidup di zaman kurapan
ketika kepala berotak diganti bola dunia
Ribuan nilai berputa-putar
menukik, mematuki diri
seperti cabikan beribu burung nazar
Berbusa-busa mulut di depan televisi
Berbusa-busa dalam ilusi
Disana kita yang dibangun dan kita yang
berulangkali dihancurkan zaman
O, zaman edan
Kita hidup di zaman kurapan
ketika tubuh dijadikan tuhan dan
pusat pemujaan yang angkuh
dalam irama komoditi
Agama dibendakan, dicari-cari
dilipatan celana Madonna
Moralitas dirobotkan, diputar-putar
dalam mekanisme libido yang binal
Kemanusiaan dimesinkan
Berjuta tanda dusta mempercepat
geliat hasrat
Berpacu dengan dahaga
Berpacu dengan berhala
Orang-orang kesurupan
dan yang lainnya ketakutan
Berlomba-lomba menenggak
fatamorgana zaman dengan segelas
luka saudaranya
Ada ribuan berita melata
Diantara koran-koran bekas yang
diinjak sepatu-sepatu dan ditiduri
anak-anak gelandangan
Televisi dimatikan dan radio berganti saluran
Listrik padam dan siang menjelang malam
Di negeri ini,
Ada ribuan orang berpesta
Ada ribuan yang lainnya dinista
2006
Di Negeri Ini Cinta Digusur Kekuasaan
Oleh Badru Tamam Mifka
Mata hati, mata hati gelisah Mata luka sejarah
Di negeri ini cinta digusur kekuasaan
Air mata ditumpahkan
Perempuan-perempuan dijatuhkan
Manusia-manusia berdesakan dalam ruang yang gelap.
Putus asa. Orang-orang kalah yang dipecah.
Mereka dikerat-kerat, digilas khianat.
Mereka diculik haknya. Dicekik kemerdekaannya.
Jika negara adalah neraka
Maka rakyat adalah gelora luka yang diperdagangkan
Ribuan orang sisa disampahkan pembangunan
Dibutakan jiwanya, ditulikan hatinya
dibisukan waktunya
Keringat bercampur air mata kehilangan
Kemiskinan meradang menerjang keseharian
Gedung-gedung dibangun, pengangguran dihiraukan
Anak-anak dididik untuk jadi gelandangan
Gelepar kelaparan, darah dingin kemiskinan
Rakyat merajut nganga rasa pedih
Rakyat dicabik rasa sedih
Dibawah telapak kaki pejabat dan hisap pengusaha
Dibawah tapak sepatu-sepatu tentara
Dibawah harapan-harapan yang dihancurkan
Dihancurkan. Mereka dihancurkan!
Jika kerja adalah serigala
Maka mereka adalah ribuan buruh yang tak utuh
Meletakkan nyeri berkelindan diantara hak, upah dan vagina
yang dilecehkan majikan
Mulut mereka dikunci, dibungkam baja dipenjara-penjara janji
Runtuhlah marsinah-marsinah diceruk kata kekuasaan
Tanpa keadilan
Jika ladang adalah murka
Maka mereka adalah petani-petani yang sakit hati
Menyandarkan rasa resah ditembok-tembok para tuan tanah
Menggarap pengap lahan pertanian, gabah yang disampahkan
Ribuan penduduk melata menyerbu kota, bermain dadu kematian
dilubang nista
Jika lapak adalah perkara
Maka mereka adalah para pedagang yang terbuang
Mengais mimpi yang robek di tepi trotoar dan di pasar-pasar
yang gusar dengan kaki yang dipatahkan, dilumpuhkan,
direbut mata pencahariannya
Atas nama ketertiban
Atas nama keindahan!
Doa Yang Tercatat
Oleh Badru Tamam Mifka
Kutulis doa ini untukmu, perempuanku
sebab aku ingin mencatatmu dalam
hitungan tahun yang panjang
—seperti hitungan takzim dan ketukan kerinduan
yang saling bersentuhan
Selalu ada dunia berpendar di mata kekasih
Lalu kita belajar berharap bahwa Cinta seperti ibu
yang melahirkan kita
Seperti keteduhan yang acap meluruskan muram
dan sunyi yang kerap melengkapi malam
Aku ingin mencintaimu, kekasihku
seperti kelak begitu mesranya anak-anak kecil
mencium kedua belahan pipiku
Sebelum hati-hati kuikat tali sepatuku
Sebelum pelan kau masukkan setiap kancing bajuku
Sebelum kelak kau bercerita padaku
bahwa doa-doa semalam hanyut di arus gerimis
Lalu separuhnya terselip diantara
angka-angka kalender dan temaram
Dan jika waktu adalah batu-batu
maka kita akan berjalan jauh menapakinya
Sampai akhirnya kita akan mengetuk pintu
dengan perasaan yang perkasa menerima setiap
suara kenyataan yang dihadirkan deritnya
Disana aku menjadi telaga bagi resahmu
Dan kau menjadi telaga bagi gelisahku
Selalu ada tanda yang tersisa untuk diterjemahkan
—barangkali luka dan kekhawatiran
Selalu ada makna yang diraih ketika pedih dicerna
dengan hati yang bersih, sikap yang lembut dan
pikiran yang tak lagi kalut
Hidup ini, kekasihku, seperti ribuan helai panjang
hitam rambutmu
Ada saatnya aku terlalu gemetar mengurainya
Ada saatnya kau begitu rapi menggerainya
Ada saatnya kau tak bisa lengkap merabanya
Ada saatnya aku aku begitu pasti membelainya
Atau begitu sepi langitmu dan anak-anak kecil
tampak berlarian nakal di teras mesjid ini
Atau begitu perihnya pikiranku dan kulihat bayi kecil
menangis di pangkuan bapaknya
Atau begitu harumnya kebersamaan dan aku ingin
menemanimu mencium aromanya
Atau kelak kita akan mengajari anak-anak yang penakut
untuk menulis puisi dengan bolpoint yang tiba-tiba
tintanya kering, jiwa yang tiba-tiba kering
Kutulis doa ini untukmu, perempuanku
sebab aku ingin mencatatmu dalam
hitungan tahun yang panjang
—seperti hitungan menempuhi ketabahan dan
harapan yang bersahutan
Dan jika waktu adalah restu
maka kita akan belajar saling mempertautkan kehalusannya
Selalu, kekasihku, aku ingin mencintaimu
Jadilah ibu bagi puisi-puisiku yang berserak
Jadilah ibu bagi anak-anakku kelak.
Kampus, 22 Desember 2006
“Selamat Hari Ibu”
Di Tikungan Jalan
Oleh Badru Tamam Mifka
Di jalan yang menikung,
kita akan menemukan selembar doa
kita lipat saja dikerumunan hujan
biar ditabuh gerimis
digerayangi dingin
Bangun surau kita
lebih dekat dengan jalan
dan kita saling merapatkan kata-kata
Menafsir setiap ketukan dipintunya
sebagai sebuah kekalahan usia
Di jalan yang menikung,
terkadang ada beberapa doa
mengajarkan kita tetap tersenyum
pada sesuatu yang percuma
April 2006
Dik, Ini Juga Untukmu
Oleh Badru Tamam Mifka
Betapa ingin aku tetap berpaut denganmu
Seperti temali Tuhan di kerapuhan iman ini
Seperti napas Tuhan di urat leher kita
“Berjalanlah disampingku, sepenuh usia dan sendu.”
Lalu tibalah rindu ini di rumah-rumah hikmah
—tempat kita tak lelah memanen makna
dalam perbendaharaan peristiwa
Dan kitapun dipergilirkan
seperti musim dan warna cuaca yang
berubah-ubah, berganti-ganti
Disana, segala pertemuan akan menjadi seluas
pengetahuan dan perpisahan menjadi seraih pelajaran
“Temani aku, Dik, sebab kita fana dilingkaran dunia.
Agar lebih keras kita bekerja dan lebih lembut
kita berharap.”
Betapa ingin kuamalkan jiwa ini
sebelum aku lupa menghukumi diri
Sungguh, tak henti mesti kita hijrahkan diri ini
menuju Cinta
Tak henti, tak henti-henti bermanusia
Betapa ingin aku tetap berpaut denganmu, Adikku
seperti puisi-puisi. Seperti doa-doa yang sunyi.
Maret 2007
Dzikir Satu
Oleh Badru Tamam Mifka
Perempuan,
dzikir ini lahir dari mata hati yang
merapatkan dirinya pada setiap
tikungan bismillah
Ia mengurai diri dalam keheningan
yang selalu berkata pelan:
“berikan aku suara terbaik dalam
setiap kerinduan yang engkau berikan
dengan tabah untuk seorang kekasih.”
Ia takzim pada setiap gagasan yang
memberi kita sepetak hamdallah
untuk bersujud mensyukuri Cinta
Dengarlah suaranya, kekasihku
–suara yang dapat kita dengar
tanpa telinga, tanpa sedikitpun kebencian
Dzikir ini lahir dari mata hati yang
merapatkan dirinya pada setiap
tikungan bismillah
Ketika ia menatap,
maka ikutilah kemana arah ia menatap
maka pergilah menuju arah ia menatap
2006
Inti Rindu Diriku
Oleh Badru Tamam Mifka
Engkau bersemayam dalam
Inti Rindu Diriku
Beribu-ribu kali basuh igauku
Dalam kelipatan gelisah dan putus asa
Andai aku mampu ucapkan seutuhnya
Tentang Engkau dalam kata
Andai aku mampu lukiskan seutuhnya
Wajah Engkau atas kanvas
Andai aku mampu tuliskan seutuhnya
Sosok Engkau lewat puisi
Andai aku mampu nyanyikan seutuhnya
Ada Engkau diantara lirik lagu
Andai aku mampu hadapkan wajahku
dengan wajah-Mu
Hanya remuk memahat maksud
Rahasia-Mu sudah cukup beri Mabuk
Dalam setiap ingat
Jauh kebelakang sebelum itu
Aku menebar cari Engkau dalam
dahaga jarak
Di luar diri
Engkau kesepian dalam pencarianku
ke barat, timur, utara, selatan,
kungan dan sudut-sudut langit yang jauh
Engkau disini ternyata
Dalam Inti Rindu Diriku
Amat dekat, utuh Engkau dalam akrab.
2003
Jalang
Oleh Badru Tamam Mifka
Perjalanan ini demikian berjatuhan
Sebab setiapkali senja pulang
Ada setapak malam menjauh mengiris arah
Aku rangkum leluka dalam muara cinta
Menyusuri semua nyeri
Lewat kekuatan puisi
Lalu apa yang dapat kita dekap
Dalam arti menunggu?
Apa yang dapat kita tangkap
Dalam arti mencari?
Kutafsir hadirmu dalam keletihan bahasa
Juga seribu diam tengadah mengukur
Setiap garis langit yang patah
Dan hidup ini jalang, saudaraku
Ia kerap mengajak kita
Bertengkar dengan
Harapan dan rasa kehilangan.
Tak henti. Tak hening.
April 2006
Jika
Oleh Badru Tamam Mifka
Jika kita lahir dari kebenaran Cinta,
kenapa harus mata jiwa dipaksa buta?
Jika kita lahir dari keberanian Cinta,
kenapa harus degup bathin dibiarkan membatu?
Jika kita lahir dari keindahan Cinta,
kenapa harus selaksa mata menata leluka?
Jika kita lahir dari kemerdekaan Cinta,
kenapa harus sabda tak kunjung bersuara?
Jika kita lahir dari kesetiaan Cinta,
kenapa harus kalah meraba kisah?
Jika kita lahir dari keabadian Cinta,
kenapa harus nurani dilarang menari?
Jika kita lahir dari penempuhan Cinta,
kenapa harus usia harapan adalah angan kematian?
Jika kita lahir dari kelembutan Cinta,
kenapa harus detik bathin demikian dingin?
Jika kita lahir dari kejujuran Cinta,
kenapa harus makna terpenjara dusta?
Kenapa harus jika?
2006
Setapak Tanda
Oleh Badru Tamam Mifka
Waktu yang berputar itu berpendaran —seperti kerikil yang dilempar dan menyembunyikan
bunyi ketika sampai di dasar danau
Lalu do`a-do`a juga cabar, menembus dinding, majalah,
diary, obrolan dan surat kabar
Barangkali ada setapak tanda dari setiap langkah
Burung-burung berhamburan dan debu bertaburan
Disitu berulangkali hidup masih saja terasa menyekap
dan membebaskan
Semua orang bersitatap, mencari pahlawan
Mencari nabi dan pahlawan hari ini
Kitab hari ini
Tuhan hari ini
Peta hari ini
Semua orang mencerna mencari makna
Menggali rencana
Semua orang menyulam dunia
2006
Karya Didin Syarifuddien (5)
Apa Agama Kita? | Ayat-Ayat Jalang | Harapanku Sudah Padam | Petak Sayap | Perjalanan Tanpa Peta | Untain Jaring Laba-Laba.
Apa Agama Kita?
Oleh Didin Syarifuddien
Awlnya kita adalah kata
Berdiri diantara deretan sabda
Dengan jari-jari yang patah
Mengutif cermin Tuhan yang retak
Di pulai bernama entah
Lalu burung-burang kepakan tanya
Di antara ayat-ayat yang pecah
Angin mana yang telah menghapuskan jejak Tuhan?
Awalnya kita adalah kata
Berjalan di antara malam yang memekat
Dengan hati yang lebam
Memuntahkan huruf-huruf
Pada musim yang mengigau
Lalau kaki siapa yang menggugurkan embun semalam?
Awalnya kita adalah kata
Bertabur dalam semesta
Tanya tanpa jeda
Namun guguran daun
Menimbun tanda baca pada langit yang gemetar
Lalu ayat mana yang telah meninggalkan tetesan darah di ujung pisau?
Lalu apa agama kita?
Ayat-Ayat Jalang
Oleh Didin Syarifuddien
Sair-sair darah meruak
Di sudut kata
Membangunkan keheningan
Dari perut-perut yang berbunyi
Tentang negeri di ujung senja
Melipat kemiskinan dalam catatan harian
Sedang di meja makan
Dasi-dasi penghisap darah
Berdebat tentang dunia
Kita adalah ayat-ayat jalang
Harapanku Sudah Padam
Oleh Didin Syarifuddien
Sejengkal tanah berpetak
Meninggalkan jejak yang retak
Di isi hari-hari yang suram
Harapanku sudah padam
Petak Sayap
Oleh Didin Syarifuddien
Wajah-wajah hitam tanpa masa depan
Berarak melingkari nasib hitam
Mereka dibunuh air mata sendiri
Sebab sang begawan adalah lirih
Kematian di negeri ini
Kami bagaikan laron
Setiap petak sayap adalah tetesan ajal yang ditakdirkan
Kelahiranya sendiri
Perjalanan Tanpa Peta
Oleh Didin Syarifuddien
Hujan yang teriris lampu
Itu mengingatkanku pada sisa
Perjalanan ketika kau mengucapkan
Deru, lirih
Bahwa cuaca telah menghilangakn sebuah huruf
Yang pernah kita susun perpisahan
Sunyi
Lalu ku beri engkau sebuah pisau dan selembar perjalanan tanpa peta
Untain Jaring Laba-Laba
Oleh Didin Syarifuddien
Siang datang mengaung
Dari pelupuk mata
Menambah nyeri dan perih hati
Penantianku bagai laba-laba yang sedang merajut untaian jaring yang siap di hinggapi kenikmatan
Karya Ibn Ghifarie
Apa Jadinya (1) | Apa Jadinya (2) |
Di Tikungan Senja | Dzikir; Kado Ultah |
Kenapa, Kenapa dan Kenapa? | Maka Apalah Artinya | Kian Pudar | Milangkala LPIK; 11 Titik | Saat Alfa | Setapak Sabda | Teruslah Berlarian.
Apa Jadinya (1)
Oleh Ibn Ghifarie
Apa jadinya kalau kampus tak pandai memainkan pena?
tak ada baris sejarah, tak ada percik peradaban…
tak ada cercah harapan, tak ada goresan kenangan…
tak ada pemaknaan, kesaksian, kebenaran, perjumpaan…
sebab setiap yang di jumpai bukan lagi sesuatu yang beradab
Apa jadinya kalau kampus tak lagi mencintai buku-buku?
tak ada ilmu pengetahuan, tak ada kebijaksanaan…
tak ada karya, tak ada kemajuan…
tak ada kekayaan masa silam, keragaman, pertemuan…
sebab setiap yang di temui bukan lagi sesuatu yang berpikir [Ibn ghifarie]
Cag Rames, Pojok Warnet. 30/07; 05. 00 wib
Apa Jadinya (2)
Oleh Ibn Ghifarie
Apa jadinya, jika para penguasa tak lagi bekerja?
Juga, ia malah tak menjadi pangkuan yang teduh bagi mahasiswa
Mereka hanya becus mencari posisi duduk dan lapak kerja
Memberi warna pada ribuan kepala
Agar kekuasaan tetap digjaya
Agar pikiran hanya satu logika
Agar tindakan bergerak sama
Agar ucapan terpenjara dalam satu kata
Agar bermeter-meter tumpuakn harta
Apa jadinya, jika para pengusa mendewakan politik identitas?
Jika mahasiswa diseragamkan dalam lubang hegemonitas
Tak hanya, kaya harta, tetapi kaya janji tak berbekas
Malah ganas, mendapat kritik pedas
Hanya ambisi midas
Hanya mental malas
Hanya watak culas
Hanya hati panas
Hanya jiwa rampas
Hanya sikap tak tegas
Pojok,Sekre Kere,12/09;21.08 wib
Di Tikungan Senja
Oleh Ibn Ghifarie
Di tikungan senja ku temukan sekuntum mawar
Yang tak lagi lagi sekar
Yang tak lagi semerbak
Yang tak lagi memekar
Malah kian menggelepar
Malah kian terkapar
Malah kian terbakar [Ibn Ghifarie]
Cag Rampes, Pojok Komputer Ngaheng, 02/03;21.48
Dzikir; Kado Ultah
oleh Ibn Ghifarie
Memang ku akui.
Terkadang aku alfa mengingatmu.
Untuk sekedar berdzikir saja, rasanya berat.
Untuk sekedar ibadah tepat waktu saja, rasanya susah.
Untuk sekedar memuja kebesarmu saja, rasanya tak sempat.
Malah asyik.
Membaca, hingga tak kenal tempat.
Menulis, hingga tak kenal waktu.
Diskusi, hingga tak ada kesimpulan.
Utak-atik Blog, hingga tak kenal lelah.
Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 20/01;06.12 wib
Kenapa, Kenapa dan Kenapa?
Oleh Ibn Ghifarie
Kenapa, setiap kali terjadi keributan.
Entah atas nama agama?
Entah atas nama ormas?
Entah atas nama pergerakan?
Entah atas nama penyebaran risalah Tuhan?
Entah atas nama kemanusiaan?
Entah atas nama kaum hawa?
Entah atas nama kaum adam?
Entah atas nama harta?
Entah atas nama jabatan?
Entah atas nama daerah?
Yang jelas, perlakuan ganjil itu acapkali terjadi dan akrab dengan keseharain kita
Kenapa mesti terjadi?
Kenapa mesti menimapa kita?
Kenapa mesti baku-hantam?
Kenapa mesti adu-tojos?
Kenapa mesti melanggengakn budaya barbar?
Kenapa mesti kita amaini?
KEnapa mesti kita bela?
Kenapa mesti kita perjuangakn?
Kenapa mesti kita hujat rame-rame?
Kenapa mesti malu berkata tidak?
Bukankah kita generasi muda yang konses terhadap Intelektual dan unggul dalam moral?
Lantas dimanakah letak hati nurani kita?
Lantas dimanakah letak keintelektualitas kita?
Lantas dimanakah jargon membela rakyat kita?
Lantas dimanakah jargon pameo pengubah masanyarakat kita?
Lantas diamnakah letak kebanggaan memperjuangakn kaum lemah kita?
Lantas dimanakah letak penumbas kebatilan kita?
Lantas dimanakah posisi keteladan sebagai pemberantas kezdaliman kita?
Lantas dimanakah posisi menyapa perbedaan diantara kita?
Lantas dimanakah tempat berkumpulnya orang-orang sholeh kita?
Lantas dimanakah tempat berteduh sejenak dari kepenatah hidup kita?
Entahlah……………[Ibn Ghifarie]
Cag Rampes,Pojok Sekere kere,02/10;15.24 wib
Maka Apalah Artinya
oleh Ibn Ghifarie
Bila malam tak lagi gelap
Maka apalah artinya siang
Bila mulut tak lagi berkata
Maka apalah artinya ucapan
Bila buku tak lagi dibaca
Maka apalah artinya perpustakaan
Bila alam tak lagi indah
Maka apalah artinya ketakjuban
Bila agama tak lagi menjadi rahmatan lil alamien
Maka apalah artinya agama
Bila hidup tak lagi bermakna
Maka apalah artinya kehadiran
Bila Tuhan tak lagi diharapkan
Maka apalah artinya seluruh harapan [Ibn Ghifarie]
Cag Rampes, Pojok Warnet,30/07;04.28 wib
Kian Pudar
Oleh Ibn Ghifarie
Detik-detik kian memudar
Menit-menit kian berdebar
Jam-jam kian bersandar
Hari-hari kian gemetar
Minggu-minggu kian kelakar
Bulan-bulan kian bertengger
Tahun-tahun kian tak sabar
Semuanya sirna dalam untayan kata
Semuanya lenyap dalam tutur kalimat
Semuanya hilang dalam hitungan waktu
Semuanya ditelan dalam kepongkahan
Semuanya raib di jamah ke laliman [Ibn Ghifarie]
Cag Rampes, Pojok komputer Ngaheng, 02/03;21.38 wib
Milangkala LPIK; 11 Titik
oleh Ibn Ghifarie
Ku akui mengang.
Tak banyak yang ku perbuat
Saat hari bersejarah tiba
Tak banyak yang ku lakukan
Saat bermakna mulai menjemputku
Tak banyak yang sampaikan
Saat hari bahagian mulai mengatuk qalbu
Sekedar ngumpulin kawan-kawan saja, rasanya susah
Sekedar bertukar pengalaman soal memaknai Ultah, rasanya enggan
Sekedar berpesta ria tentang Milangkala, rasanya tak sudi lagi
Sekedar berkarya, rasanya tak mau lagi.
Kini, malash sibuk dengan
Tutur kata tak karuan
Tulisan tak bermakna
Atau malah asyik noton Tom and Jerry
Semuanya tergadai
Demi sepenggal nafsu belaka
Dimanakah cita-cita muliamu
Untuk tetap berbuat
Untuk tetap berkarya
Untuk tetap menjaga
Untuk tetap melanjutkan
Yang terbaik demi lembagamu
Entahlah
Cag Rampes, Sekre Kere, 14/05;00.08 wib
Saat Alfa
Oleh Ibn Ghifarie
Kutulis seluruh kealfaan
Saat mulai enggan menyebut nama-Mu
Saat mulai jauh menginat-Mu
saat mulai redub batin ini bertasbih kepada-Mu
Saat mulai berhadapan dengan murka-Mu
Dipelupuk ke agungan-Mu
Ada seribu pengampunan
Ada seribu kata maaf
Ada seribu kebahagiaan
Ada seribu keceriaan
Kutulis semuanya
Demi meraih cinta-Mu
Demi menggenggam kasih-Mu
Demi bercumbu dengan-Mu
Demi bersemayan di arasy-Mu
Cag Rampes, Sekre Kere, 20/05;12.14 wib
Setapak Sabda
Oleh Ibn Ghifarie
Sabda adalah bahasa qalbu
Sabda adalah ungkapan hati yang suci
Sabda adalah untaian kata yang tulus
Sabda adalah tutur yang teratur
Sabda adalah suara Tuhan.
Cag Rampes, Sekre Kere, 22/05;22.38 wib
Teruslah Berlarian
Oleh Ibn Ghifarie
Teruslah berlarian
Demi ngengejar mimpi yang tak pernah terwujud
Teruslah berlarian
Demi menggapai cita-cita yang tak kunjung ku raih
Teruslah berlarian
Demi untanyan kata yang tak lagi utuh
Teruslah berlarian
Demi mewujudkan karya yang tak ku genggam
Terus, terus, dan terus berlari
Hingga kealpaan menjadi bagian yang tak terpisahkan lagi
Hingga azal menjadi teman sejati [Ibn Ghifarie]
Cag Rampes, Pojok Komputer Ngaheng, 2/03;21.29 wib
Karya Johan Sidik Kantara
Aku Disini | Aku Entahkan Doa | Aku Yang Merindukanmu | Di simpang Jalan Bisu | Kampusku | Kau Ayat-Ayat Perindu | Kau Sangat Berharga | Sebersit Senyum | Thufail | Wahai Entah | Yang Kehausan dan Kelaparan Oleh Kebenaran.
Aku Disini
Oleh Johan Sidik Kantara
Angin kecil mengayun kerinduan tentangmu
Terlihat wajah bercahaya menguak rindu dipesisir hatiku
Satu senyum kucuri dikejauhan kusimpan dalam hati
Mata yang indah penuh tandatanya
Mungkinkah kau lempar sapa tulus menjahit resah kerapuhan
Yang membelit palung jiwa yang kini berserakan
sampai aku tak sanggup lagi menahan rindu
Disini ditemani sunyi penuh
bercumbu bayangmu pada pesona
sampai langit jiwa retak
lalu kucoba tafsir remang tentang perasaan
oleh ketulusan yang sedikit tersisa
aku yang jauh darimu
tapi aku dekat dengan cintamu
padamu disini aku penuh
Aku Entahkan Doa
Oleh Johan Sidik Kantara
Sehelai doa dipersimpangan jalan
Menjadi setumpuk sampah busuk
Dipandang enggan, cemas, lesu, penuh beban.
Seraut beban itu jujur, menjadi coretan-coretan malam
Menjadi sesajen diatas altar kebisuan
Menjadi ujung dilabirin keheningan
Tetap menggantung dilangit harapan
Aku Yang Merindukanmu
Oleh Johan Sidik Kantara
Kini kugantungkan rinduku
Padamu sambil merayap kucoba selami lautan kasihmu
Semoga tak kelam
Kini kucoba walu luka dan nyeri menguliti diriku sendiri
Dirimu adalah jiwamu
Yang sulit kutafsir seperti bebatuan malam
Yang menggantung dalam palung jiwaku
Sampai saraf dadaku mengejah kembali
Tentang asmara dibalik cintamu
Di simpang Jalan Bisu
Oleh Johan Sidik Kantara
Siang menatah resah
Matahari menggantung diharapan semu
Kuukir hari dengan tinta air mata
Daki semakin pekat dikulit coklat
Lamun bergoyang
Menghantam pilu, nyeri di urat nadi
Diam kupaku kecewa
Di iringan sesak detik kejamnya iri
Sumpah serapah tak lagi dibaca
Doa tak lagi menjadi wewangi bunga
Dedaun terus tumbuh dalam putaran cuaca
Cakrawala menjadi tangis kerapuhan
Dada menjadi lautan pasir sesal
Hati menjadi sejarah hitam yang terlupakan
Langkah tinggal lelah dipersimpangan
Mulut hanya menjadi bungkusan kosong
Pada untaian jingga dilangit harap
Mengendap seluruh rasa asa
Dipalung hening kelam dalam bingung
Aku menjadi diriku!
Namun akhirnya resah dan entah.
Kampusku
Oleh Johan Sidik Kantara
Kampusku
Gudang busuk yang menjijikan
Kampusku
Adalah proyek basah
Kampusku
Libido politik uang
Kampusku
Kampus palsuku
Kampusku]
Pemikir-pemikir palsu
Membangun infrastruktur
Dan menejemen setan yang keliru
Kau, Ayat-Ayat Perindu
Oleh Johan Sidik Kantara
Sesosok dirimu menjadi paragrap
Menjadi rima dalam puisi
Kutafsir bagai ayat- ayat mati
Menjadi hadis penerjemah wahyu
Langkahmu menjadi artefak-artefak
Kugali, kujengkali
Seraya berusaha meyakinkan pada naluri
Bahwa aku
Kini aku menjadi nabi bagimu
Memuja dengan hasrat
Berdoa dalam bisu untuk segurat senyum
Taukah kau, pujaku!
Kini seurai rambutmu,
Sekedip matamu, selebat bulu alismu, sepikuk hidungmu, segurat tebing wajahmu, sepeka telingamu. Semua, seonggok daging bersosok dirimu,
Dan wahyu bagi seorang gembel
Ayat-ayat dirimu kuhapal, ku-kumpulkan,
Kubaca, agar tak lupa
Dan, akan kuberi tahu pada dunia semampu aku punya
Bahwa, aku menyukaimu!
Jauh dari yang kau tahu
Agar aku, kau, abadi
Dalam tulis yang tak rapi
seliar kau memilih pendamping hati.
Kau Sangat Berharga
Oleh Johan Sidik Kantara
Satu bintang berkelip cahaya
Bersinar kearah bumi mati
Kutatap matamu, sorotnya kearah hati
Dada ini, bagaikan merapi berhaburan kawah panas
Diriku sesak, penuh dengan harap pada kerinduan yang mati
Yang menunggu terbelenggu
Diriku kini memusat pada arahmu
Tapi tak ada lagi selain berusaha
Mendongkrak perlahan dirimu yang membatu
Dengan doa dan ayat-ayat cinta
Demi kesungguhan
Aku menyukaimu penuh
Sebersit Senyum
Oleh Johan Sidik Kantara
Senyummu penghargaan terindah
Senyummu membuat rindu meresah
Senyummu diam dihatiku
Senyummu terjaga selalu
Senyummu semoga menyatukan diriku dan dirimu
Senyummu menjadi detik-detik yang kutunggu
Senyummu kehangatan jiwaku
Senyummu kuharap selalu
Thufail
Oleh Johan Sidik Kantara
Jiwa
Jiwa universal
Sesuatu
Jiwa
Yang membuat hidup
Jiwa
Jiwa partikular
Adalah jiwa
Jiwa, jiwa dan jiwa
Yang akn kembali ke jiwa-jiwa universal
Wahai Entah
Oleh Johan Sidik Kantara
Wahai
Aku di sini, dikelilingi seurai bayang,
Tentangmu. AKU…
Kini, kalut menyelimuti pikir
Berbuah patahan-patahan kata luka
Entah.
Tentangmu…aku…patah arah
Wahai
Masih tatap kusandarkan,
Tentang rindu walau bias dan abu,
Aku, semakin semu kelabu
Mencoba Berkiblat,
padamu terlelap menancap lelah
Wahai
Tetaplah disana,
Dengan tegasmu, buang tulusku
Pada tong sampah resah.
Wahai
Tetaplah disana,
Jangan toleh aku, yang semakin sakit parah
Harus kau tau,
Sakit ini bukan karenamu…
Tapi separuh sebab meguak tulus dalam jiwa
Wahai
Bukan karenamu, aku…gila,
Tapi, kerena perasaan tulus padamu, membuatku lebih gila
Yang Kehausan dan Kelaparan Oleh Kebenaran
Oleh Johan Sidik Kantara
Tuhan
Kini aku berontak dalam guratan takdirmu
Yang penuh dengan dosa
Tapi dosa bukanlah sebuah kekalahan
Namun kekuatan untuk bertaubat
Dalam ke esaanmu
Yang dapat menghentikan ruang dan waktu
Tuhan
Kini aku, kau Tuhanku
Yang dapat menghentikan kesunyian
Diantara kita
Tanpa awal
Tanpa akhir
Karya Muhammad Dhian Hariyadi
Ajal | Cahaya Dunia | Harapan | Hilang | Kelahiran | Keragaman Yang Tergadai | Mereka dan Mereka | Permohonan | Petanda Keagungan Tuhan |
Pijar Ayat-Ayat Yang Sama | Sadarilah.
Ajal
Oleh Muhammad Dhian Hariyadi
Ketika mata terpenjam, mulut pun terasa kaku
Melepas kebahagiaan, kesengsaraan dan kegundahan
Akhirnya aku menunggu janji-janji dari ayat-ayat yang tersirat
Entah kemana aku dibawa
Aku hanya kabut yang digerakan oleh tombol-tombolmu
Sementara aku harus meninggalkan
Jejak-jejak dalam perjalanan dunia
Simbol-simbol ku pertahankan
Untuk menyelami kehidupan baru
Ketika aku meninggalka kehidupan lalu
Aku terkurung dalam kekauan
Cahaya Dunia
Oleh Muhammad Dhian Hariyadi
Kala menara air
Bernama cinta
Menara cinta pun
bernama batu
tak tamu tak bertemu
bermimpi dalm mimpi
dalam kelam malam
ada suara panas dan cahaya dunia pun
menjadi lembab
Harapan
Oleh Muhammad Dhian Hariyadi
Dari separuh keremangan hari
Tiada berdayu aku berdiam
Tak ada kata yang terucap
Dari pintu bibirku
Hanyalah isyarat
Tak mengerti jua
Dari separuh sisa-sisa hari
Yang akhirnya di pupuskan ditengah lapang
Jejak angin semusim
Hapuskan senyuman
Di kala mata memandang
Tak berujung
Kau sempat tangkap aku
Dari kepedihan yang kau rasakan
Hilang
Oleh Muhammad Dhian Hariyadi
Gemuruh mesin menusk telinga
Kepulan asap menusuk napas
Dan bumi ini terasa sempit
Dengan ilmu-ilmu yang kau amalkan
Dan peradaban baru pun telah datang
Dari sisa-sisa keru sekar
Manusia hanyalah perusak dan pembaharu peradaban
Kelahiran
Oleh Muhammad Dhian Hariyadi
Di hari dimana darah mengalir
Dari sebuah lubang pelastik yang meledak
Dan darahnya mengepal
Di lorong-lorong kehidupan
Tapi semua itu hanya awal dari perjalanan
Menyikap dunia yang dipenuhi sabda-sabda Tuhan
Keragaman Yang Tergadai
Oleh Muhammad Dhian Hariyadi
Salam kebebasab
Salam keragaman
Hilang sudah kebebasan di negeri ini
Ketika bangsa sedang terpuruk, kehancuran, konfik antar agama, ras bahkan kekerasan
Paham-paham kebebasan pun tergadai
Dengan fatwa dan materialisme
Dia bagai Tuhan yang menentukan konfigurasi kecil
Oh wahai penguasa
Oh wahai keberagaman
Kini negerimu menanti kedamaian
Dari keindahan dan rasa perbedaan
Mereka dan Mereka
Oleh Muhammad Dhian Hariyadi
Siapa mereka?
Golongan liberalisme, fundamentalisme, kyai, pastur
Mereka berjuta jiwa, bersatu wajah
Ya apalah artinya rahim pemisah
Yang tak jelas kapan dan siapa
Yang membuatnya
Apalah arti dinding pemisah
Jiwa-jiwa mereka tulus
Menyatu dalam kesehatan dan genggaman kedamaian
Permohonan
Oleh Muhammad Dhian Hariyadi
Kata, kata, kata, kata
Sikap, sikap, sikap, sikap
Ketika semua tak lagi kau pandang
Tapi janganlah pernah kau benci aku
Walau itu hanya sebuah permainan
Karena aku akan terkungkur
Dalam kesengsaraan
Tapi jika kau benamkan sesuatu dalam hatimu?
Biarkan aku yang mengucapnya
Jika hanya menimpan dendam?
Biarlah ucap maafku tuk menghapusnya
Petanda Keagungan Tuhan
Oleh Muhammad Dhian Hariyadi
Kenapa siang harus jadi terang?
Kenapa malam harus jadi gelap?
Kenapa matahari harus menyinari?
Kenapa bulan harus redup di balik kegelapan?
Kenapa cinta harus menjadi hati?
Kenapa amarah menjadi konflik?
Kenapa bunga harus mewangi?
Kenapa dunia harus berputar?
Kenapa daun harus bergoyang?
Lalu kenapa aku harus berpijak di atas bumi?
Dan kenapa aku hars merasa hidup?
Tak ku temukan jawabanya sampai saat ini
Karena aku bukan yang menciptakanya.
Pijar Ayat-Ayat Yang Sama
Oleh Muhammad Dhian Hariyadi
Hitam kelam dalam kegelapan malam
Ku adalah ranah yang ditemani oleh gemercik air hujan
Yang datang seperti sabda Tuhan
Yang mengalir menunggu
Cahaya-cahaya kebahagiaan yang datang
Dari pijar ayat-ayat yang sama
Sadarilah
Oleh Muhammad Dhian Hariyadi
Mencintaimu diam-diam
Adalah anugrah terbesar
Memandangmu dari kejauhan
Membuat hatiku damai
Melihatmu tersenyum
Membuat aku bahagia
Walau kau tak pernah anggap aku ada
Namun ku yakin kelak suatu saat kau akan menyadarinya
Ada seorang yang sangat mengharapkanmu
Dari sela-sela lubang kehidupan
Dan selalu menunggu dari titik
Pengahbisan tiba
Karya Pradewi Tri Chatami (9)
Anak Kecil Itu | Cinta | Indonesia | Jalang |
Just For My Self | Mendua | Selamat Datang Di Kampus-Kampusan | Wejangan Kartinian | Yang Kumau | Ziarah.
Anak Kecil Itu
Oleh Pradewi Tri Chatami
Anak kecil itu masih disana
Mengais-ngais sampah,
berharap masih ada sekedar remah
untuk membungkam cacing di perutnya
Anak kecil itu masih disana
bernyanyi lantang
pasang muka yang bikin kasian
tapi ia masih tetap terabaikan
Anak kecil itu masih disana
terlelap dalam mimpi yang tak begitu indah,
di antara riak kehidupan malam yang tak ramah
Anak kecil itu masih disana
di tengah gang kecil di sudut kota
tangan kecilnya megang lem aibon
sesekali ia ketawa,
sesekali ia bengong,
sesekali ia meracau tentang ibu
yang mayat bugilnya ketemu di pinggir kali
Anak kecil itu masih disana
sekarang, dan entah sampai kapan…
Sept 12, 2k3
Cinta
Oleh Pradewi Tri Chatami
Kubilang: Aku cinta kamu! Cukup??
Kuulang:
Aku cinta kamu.
Seperti cinta perempuan pada sunyi di tepi gemuruh resah
Cinta yang mengaji ayatayat gelisah pada senyap duapertiga malam.
Tak terbaca oleh dua bola mata,
Tak terkata oleh dua garis bibir,
Diam yang setia bercerita…
Aku cinta kamu,
Seperti cinta Hawa pada Adam.
Cinta yang membawa pada kejatuhan
Mengubah Taman Eden menjadi taman bermain
Mengubah sebutir Apel memjadi secawan Anggur
Mabuk, menerawangi setiap batas nalar
Sepenuh sadar…
Aku cinta kamu. Kawan. Kasih.
Dengan iman pejalan ketakpastian
Melewati setiap remang gusar diseling igau gurau
Menertawai nestapa, terbahak pada kegetiran rindu yang tak terjamah ucap…
2006
Indonesia
Oleh Pradewi Tri Chatami
Berjalan di tengah remang fajar
Semburat jelaga maha kelam
Liat! Ada babi hutan naik Volvo,
dan anjing kudisan naik BMW!
Cecurut-cecurut pesta kembang api,
ngejarah nurani.
Selamat datang di labirin maha legam!
Disini, kita akan berputar di area
kemiskinan, kejahatan, basa-basi,
dan perkosaan kemanusiaan maha dahsyat!
Di tempat ini, jalan sesak
sama rambu seribu jargon!
Disini, mentari enggan terbit,
malah lari terbirit-birit!
May 20,2002
Jalang
Oleh Pradewi Tri Chatami
Aku adalah perempuan jalang
Begitu kata konstruksi sosial
Perempuan jalang!
Seru moralitas konvensional
Aku memang liar,
Ingin bebas menolak dirantai
Tapi jika karena itu kalian pikir aku binal,
Maka siapa kalian sebut diri kalian
Saat kalian melacurkan apa saja
Demi belenggu yang kalian sebut
Tatanan norma
Siapa kalian panggil satu sama lain
Saat identitas yang kalian punya
Hanya merkmerk keluaran pasar besar
Yang kalian sebut sejati kehidupan beradab?
Norma kalian memaksa manusia
Melata di ujung kakinya
Untuk menjilat pemegang rantai
Peradaban kalian membuat manusia
Lupa mereka lahir merdeka
-2006-
Just For My Self…
Oleh Pradewi Tri Chatami
Kemana saja kau selama ini?
Tanpa nurani, kau melayang mirip kunti,
tak lagi sebagai manusia yang membumi.
Ikuti palsunya mimpi tidur siang,
hingga hati buta tak jua tercerahkan.
Kelewat sibuk sama gosip remeh,
dan puas cuma sama omong kosong istilah-
istilah intelektual, sok ilmiah.
Cintamu juga tak mengarah, tak manusiawi.
Kau lebih busuk dari limbah!
Lebih iblis dari setan, parasit!
oh,…aku!
Mendua
Oleh Pradewi Tri Chatami
-bwt shen-
Mendua, diantara cinta-cinta
yang tersakiti
dan menjamah bayangmu pun
menjadi lebih jadah dari dosa!
Tanganmu menghamba,
sedang ia hanya bertekuk lutut..
bulir-bulir airmata
basahi serpih hati.
April 30, 2k6
Selamat Datang Di Kampus-Kampusan
Oleh Pradewi Tri Chatami
selamat datang di kampus-kampusan,
institut-institutan yang kini berubah jadi
universitas-universitasan.
Sebuah perubahan-perubahanan
Termasuk tambahan-tambahanan
Fakultas-fakultasan
Yang dibumbui
Pemilihan-pemilihanan
Dekan-dekanan
Ah, ini memang tempat-tempatan
Main-mainan
Mahasiswa-mahasiswaan
Tempat belajar-belajaran
Ilmu-ilmuan
Tempat teriakan-teriakanan
Orang-orangan
Yang gila-gilaan
2006
Wejangan Kartinian
Oleh Pradewi Tri Chatami
Perempuan jaman sekarang, kata ibuku
Tak tahu terima kasih sama Kartini.
Dulu dia merjuangin pendidikan,
Bukan sibuk bersolek buat lomba kebayaan’
(waktu itu ada kontes kebaya di tv)
Perempuan jaman sekarang, kata ibuku
Tak tahu terima kasih sama Kartini.
Dulu dia merjuangin harkat martabat wanita,
Bukan maksain goyang erotis mancing birahi’
(dia lagi nonton acara gosip tentang inul)
Perempuan jaman sekarang, kata ibuku, lirih.
Tak tahu terima kasih sama Kartini.
Dulu dia nyelipin refleksi religiusitas islam
Yang membela perempuan,
Makanya dia ngutuk abis poligami,
Karena dia juga ngalamin
Langsung, ataupun engga.
Bukannya terbuai sama singkatnya asmara
Dan terseret cinta yang mendua
Dengan iming-iming surga.’
(ngomentarin isu poligami)
Ah..Ibu, kalo gitu,
Kayaknya sekarang Kartini jengah
Gerah sendirian disana di alam barzah ,
Nyari cara buat ngerangsek dari kuburnya!
April21, 2k6
Yang Kumau
Oleh Pradewi Tri Chatami
Aku ingin hidup!
Aku ingin terbang!
Jika jatuh, aku ingin jatuh dari langit ketujuh
Aku ingin terbang melayang
sebelum mencium tanah dan hancur!
Aku ingin ajari orang-orang tuk bermimpi,
dan menjalani hidup demi mimpi
Aku ingin ajari orang untuk berani
wujudkan angan…
cintai kehidupan.
Aku ingin ajari orang-orang
mempersembahkan kehidupan,
dan bahagia…
Ziarah
Oleh Pradewi Tri Chatami
Jalan itu memang tak lurus, sahabat
Kadang kita menemukan tikungan tajam tak terduga
kadang ada simpangan-simpangan yang membuat kita bingung,
Atau lupa pada tujuan kita,
Karena kita tertarik untuk membeli rokok
Dan menyeruput segelas kopi
Di kedai seberang jalan.
Hidup tak jauh dari yang demikian,
Dan lebih sering ia menawarkan kembang gula
Warnawarni agar kita sejenak berpaling
Tak mencari lagi harta karun kita.
Padahal ayah ibu selalu berpesan
Bahwa kita berpacu dengan waktu,
Ia yang takkan kembali setelah sekali ia jadi
Masalalu.
Tapi surga di akhirat sana penuh dengan pelanggar
Rambu-rambu jalan dunia pada masanya
Disesaki dengan halhal yang kerap buat kita
Disebut wong edan, Dipenuhi sekumpulan orang yang menggilakan dirinya
Demi harta yang disebut kebenaran dan pengetahuan,
Bukankah itu tempat dari Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad, dan Maryam?
Bukankah Itu pula rumah Adam dan Hawa
Yang telah memakan buah terlarang?
Ah, sobat, bukankah yang benar selalu saja salah?
Dan kita hanyalah pejalan, sekali waktu kita tamasya
Di taman cinta, Dan saat yang lain ziarah ke pemakaman kemanusiaan
Karya Sutisna
Amparan katineung | Berhati lembut | Cincin |
Galuh Katresna | Kadeudeuh | Kekasihku | Kelam | Perjalanan | Puisi Malam | Pupujaning Ati | Sang Dewi.
Amparan Katineung
Oleh Sutisna
Dalingding asih dimumungung gunung
Ngahibaran sagara rasa nu teu wasa
Nyingahareupan guligahna panghareupan
Duriat manteng ngagalindeng
Nganteurkeun lamunan ka alam maya
Ngajak lalyaran dina amparan kembang hareupan
Nu kiwari tinggal carita
Berhati lembut
Oleh Sutisna
Gerimis malam jatuh didedaunan
Mengiring mimpi-mimpi menuju keindahan
Kala siang panggung derita terus menghantam
Di perempatan kehidupan umat manusia
Berkati dunia
Oh yang maha agung
Sinari cahaya dirinya dengan cintaMu
Karena ia berhati lembut
Selalau merindukan wajahnya pada sesama
Cincin
Oleh Sutisna
Gemerlapnya sutra di pikiranmu
Menutup kepedihanmu
Yang penuh dengan perih
Engkau tak rela ditelan harimau yang lapar
Yang setiap saat dihadapanmu
Tataplah keadaan cinta yang kau miliki
Jangan merengek pada kehidupan
Hadapilah dunia apa adanya
Berjuang, berjuang dan berjuanglah
Galuh Katresna
Oleh Sutisna
Wewejaning ati nu ngesian geurenteus hate kahirupan
Panggupay rasa
Panggugah carita kaputus asaan
Sabobot sapihanean mangrupi tatanan hirup
Pamo ulah kabawa-bawa ku ala massa
Komo deui kajurung ku hawa nafsu ngumbar amarah
Matak pegat di tengah jalan
Nafsu matak kaduhung
Badan nu katempuhan
Kadeudeuh
Oleh Sutisna
Lir ibarat cai ibun nu ragrag ka patanaman
Niisan ka kembang anu sumedang ligar
Mihareup pangjajap kadeudeuh anu pageuh
Nancep moal ingkah balilahan
Moal sakoneng daun pare
Jujunan pupunden asih
Tebih jauh kalangitan
Anggang bulan ka bentang
Sagara rasa teuwae sirna
Nyeceh pageuh dina fikir
Nu hiji waktu bakal di ukir
Kekasihku
Oleh Sutisna
Jangan merasa sendirian dalam hidup
Duhai kekasihku
Derita yang engkau tanggung
Adalah perjalanan hidup
Senja kala engkau pun akan tersenyum
Melihat mimpi-mimpimu menjadi kenyataan
Pandanglah air sungai yang mengalir
Air mengalir mengikuti tempat
Serta kehadiranya dinantikan
Oleh segenap mahluk
Bercerminlah pada air
Kelam
Oleh Sutisna
Dunai bagaikan dalam onggokan tong sampah
Penindasan selalu datang menghantam
Ia tak peduli siapa yang ada dihadapannya
Mukanya merah kelabu
Bibirnya selalu melafalkan asma Tuhan
Kejahatanya sangat licin
Ia memperdayai orang-orang dengan dalih agama
Menjual aya suci demi kekuasaan
Dunia kini menuju kehancuran
Tindakan biadab bagai barang mainan
Dipermaikan dan selalau dipermaikan
Hidup pun adalah permainan
Perjalanan
Oleh Sutisna
Siapa menyangkal takdir telah mengungkung kita
Tak disadari hidup penuh dengan bumbu-bumbu kepalsuaan
Aromanya adalah janji-janji manis
Akankah dirimu selalau ditikam sang takdir
Akankah engkau bangkit
Atau malah terdiam
Hingga engkau mati konyol
Segera bangkit sebelum terlambat
Sang fajar telah menantimu
Kehalusan segera datang
Menjelma menjemputmu
Kemarilah
Oh sang waktu
Aku merindukanmu
Puisi Malam
Oleh Sutisna
Daun kering berjatuhan dari rantingnya
Terhempus badai pasir yang mengaung
Meluluhkan kedamain dunia yan baru tercipta
Singgasana malam merintih dalam kesunyia
Terdiam dalam berjuta bahasa
Ditikan oleh panasnya nafsu dunia
Hanya bisa pasrah pada sang takdir
Yang merengguk kebebasanya
Yang menikam dengan jeruji-jeruji kebenaran
Atas nama cinta
Atas nama agama
Atas nama kemanusiaan
Dirimu dianiaya
Pupujaning Ati
Oleh Sutisna
Renggat galih nu katampi
Milari kaasih nu teu ngajadi
Neangan pangdumukan rasa
Ka diri nu tunggelis
Ngabebenah diri ku keclakna cimata
Inget gesan diri nu teu ngajadi
Rusak di teureuy anak zaman
Urang muja sukur ka sanghyang widi
Maca tasbih sareng kalimat tahmid
Ngeusian hate anu sumpek
Ku rupa-rupa pasualan dunya
Sang Dewi
Oleh Sutisna
Senyummu membalut luka dijiwamu
Yang lama diterjang bala tentara kejahatan cinta
Bara api kedurjanaannya
Mencengkram jiwa-jiwa manusia
Menjerat hingga dibuatnya tak berdaya
Bangkitlah
Hadapi kekjaman dunia dengan rengkuhan cinta
Kalahkan setanisme yang ada didirimu
Berdirilah
Wahai sang dewiku
Karya Tedi Taufiqrahman
Akhirku | Ini Hidup | Kidung Lirih | Gunung Kemusykilan | Kosong | Lolongan Anak Muda | Munafik | Sabtu Pagi | Sajak Belajar Vandal | Sepongkah Nafsu | Tak Henti Selalau.
Akhirku
Oleh Tedi Taufiqrahman
Tempatku memuja
Segala rasa tercurah
Bagi semua pendosa
Dengan jalan yang di kehendaki
Tempatku berserah
Kembali pada pasrah
Tuhanku
Kuasa akan darahku
Merambah pada semua
Akankah sintuh qalbu
Sampai jadi abu
25 Januari 2006
Ini hidup
Oleh Tedi Taufiqrahman
Ini hidup kawan
Bukan sinteron yang sering kau tonotn
Selalu kau menjadi arjuna
Berakhir bahagia …hah
Nonsens
Hidupmu adalah pergulatan
Tanpa upaya tak akan kau berjaya
Lihatlah alam sekitar
Makhluk mengejek tapi kau merengek
Mau jadi apa
Tatkala fenomena tak relevan dengan idealita
Jangan kau terhenyak
Karena sudah biasa
Harusnya kau katakan pada mereka
Inilah ironi dunia tak bisa tuk mengelak
Kidung Lirih
Oleh Tedi Taufiqrahman
Telah sering ku senandungkan
Syair pengaduan
Degan segumpal pengharapan
Keulayangkan
Namun dapat terhiyng
Kini luka benar tubuhku
Tercabik dikoyak oleh realita
Kenyataan itu memang pahit
Mendesak, menuntut bahkan mendepakku
Susah memang
Naik banding ke alam kosmologi
Tak berawal tak kunjung berhenti
Tak nyata dalam realita
Namun pasti dalam fenomena
Kidung lirih kusenandungkan.
Gunungan Kemusykilan
Oleh Tedi Taufiqrahman
Hutan rimba yang menggana
Lautan tak terawasi
Kemegahan tak terhingga
Keagungan tak berbatas
Namun apakah sudi
Turunkan keajaiban
Hanya setitik kan mengubah
Seluruh hidup umat manusia
Disini diriku mengemis
Padamu… hanya padamu
Sudi layarkan kemusthilan
Diantara akal realita fenomena
Biarkan terhenyak
Dengan satu keajaiban di realita zaman
Kosong
Oleh Tedi Taufiqrahman
Tak ada yang terlihat
Begitu pula tak terjamah
Semua terasa hampa
Lemah termamah…
Hanya meragu pada ketika
Di saat pada
Aku merasa
Taman UIN SGD, 01 Februari 2006
Lolongan Anak Muda
Oleh Tedi Taufiqrahman
Tetesan air mata darah
Mengalir deras di pipi
Menjadi orang yang tak berarti
Tubuh renta membanting tulang
Hanya untuk sekeping uang
Duduk termangu seperti orang dungu
Menangis tersedu
Terus dan tiada henti mengadu
Tak bisa menolong
Hanya bisa menggonggong dan melolong
Harap mereka tahu
Tak ada yang bisa kubantu
Meringankan beban menyimpan perih
Suatu hari nanti hari akan tiba
Saat aku berjaya sampai akhir usia
Munafik
Oleh Tedi Taufiqrahman
Kenapa tak langsung saja kau sebut
anjing
Tak perlu ditutup-tutupi dengan
gonjang-ganjing
Bahkan argumentasi ilmiah berbau pesing
Kenapa tak langsung saja kau hujat
anjing
Tak perlu dimanis-manis dengan
teori-teori batang penis
Daripada panjang-panjang tak dimengerti
Lebih baik pendek berarti
Misalnya
Testis.
Kenapa tak langsung saja kau caci
anjing
Tak perlu dibungkus ayat-ayat suci
Tentang ajaran ramah dan sejarah para nabi
Semua mejadi terkesan recehan
Dan bau tai babi
Kenapa tak langsung jawab
Anjing
Daripada munafik
Seperti gundik kelihatan cantik
Padahal rujit
Kenapa tak langsung saja kau berubah
jadi anjing
Punya, ekor, berliur memiliki taring
Biar aku gampang memilah
Yang mana anjing
Yang mana babi
Yang mana bagong
Yang mana manusia
Yang mana maha
Ternyata kita lebih suka yang sedap-sedap
Dimuka dan dikhianati
Daripada mendengar perih dan sakit
Setidaknya ada harap
Meski jiwa kita kronis kurapan
Ternyata mental kita terganggu
Jiwa kita busuk
Sabtu Pagi
Oleh Tedi Taufiqrahman
Tak ada yang dapat ku tulis
Selain menulis namamu
Tak ada yang dapat ku ucap
Selain mengucap menyayangimu
Tak ada yang dapat ku lihat
Selain melihat bayang wajahmu
Tak ada yang bisa mengalahkanmu
Sampai senyummu rasuk dalam sukmaku
04 Februari 2006
Sajak Belajar Vandal
Oleh Tedi Taufiqrahman
Ada agama sedang menangis di pojok rumah
Menjerit melihat para penganut mencacah
Ajaran doktrin dan dogma dengan pongah
Ada agama sedang melamun melihat
Nasib bangsa yang dipenuhi dengan para pengkhianat
Penjilat mengerat ayat-ayat suci dengan lahap
Ada agama sedang melayang-layang mengabut di langit
Ada agama sedang meringkuk di balik jeruji
Penjara habis dihantam dibekuk dipukuli
Oleh para aparat tentara dan polisi
Agama tak punya lagi identitas
Tak memiliki wajah
Bisa dijual belikan hanya untuk segunduk uang kertas
Menjadi mantra sumpah serapah
Mengusir hantu dedemit kuntilanak beserta keturunannya
Agama bisa ditemukan di mall swalayan bahkan di pelacuran
Menjadi bahan legitimasi segala hal
Mengobral fatwa halal haram
Dari makanan, kondom sampai dildo
Mengumbar nafsu dan libido
Kekuasaan ketamakan
Sepongkah Nafsu
Oleh Tedi Taufiqrahman
Tatkala tangan dunia terngangah
Tatkala kepala dunia terperangah
Bermandikan keluh kesah
Berselimutkan gelisah
Tak berdaya
Kemudian terlambat memang
Menggantungkan tanpa gantungan
Mengendarai tanpa kendaraan
Semua umat berkata bodoh tolol
Memang konyol
Kasat mata tak terlihat
Sembilu jiwa menunggu
Hal yang tak terpadu. Tak menyatu
Bodoh memang tapi kupercaya
Secuil keajaiban ‘kan menolongku
Tak Henti Selalu
Oleh Tedi Taufiqrahman
Setiap temu denganmu
Senyap sangsi hilang berlalu
Pertanda gambaran hatiku
Telah melukis mukamu
Dalam taman jiwaku
……?……
Tujuku tak kan henti meski termakan waktu
Selalu aku mendambamu
Setiap merindumu
Hanya kata tertulis untukmu
Pada malam hanya bisa mengadu
Kapan bersatu…
Camp The End, 29 Januari 2006
Kontributor
Ahmad Sahidin, Mantan ketua umum LPIK periode 2002/2003. Kini, editor di majalah Swadaya MQ
Badru Tamam Mifka, mantan Ketua Umum LPIK periode 2005/2006. Kini tengah menyelesaikan kuliah di jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung
Didin Syarifuddien, Mahasiswa Sosologi Fakultas Filsafat dan Teologi UIN SGD Bandung dan mantan koord Divisi Metodologi dan wacana periode 2004/2005
Ibn Ghifarie, Mantan Sekretaris Umum LPIK periode 2003/3004. Kini sedang menyelesaikan kuliah di jurusan Studi Agama-Agama Fakultas Filsafat dan Teologi UIN SGD Bandung.
Johan Sidik Kantara, Mahasiswa Menejemen Keuangan Syariah (MKS) Fakultas Syariah dan Hukum UIN SGD Bandung dan Koord Divisi Seni dan Budaya LPIK periode 2007/2008
Muhammad Dhian Hariyadi, Mahasiswa Sosologi fakultas Filsafat dan Teologi UIN SGD Bandung dan anggota Divisi Seni dan Budaya
Periode 2007/208
Pradewi Tri Chatami, Mahasiswa Psikologi Fakultas Psikologi UIN SGD Bandung dan aktif di LPIK sebagai anggota Divisi Jurnalistik
Sutisna, Mahasiswa Aqidah Filsafat fakultas Filsafat dan Teologi UIN SGD Bandung dan anggota Divisi Seni dan Budaya Periode 2007/208
Tedi Taufiqrahman, Ketua Umum LPIK Periode 2006/2007. Kini sedang menimba di jurusan Sosologi fakultas Filsafat dan Teologi UIN SGD Bandung.
Kategori: Karya
Karya 26
Mei 30, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar
Ontologi Puisi; 11 Titik
Karya Teche (9)
Wejangan Kartinian
Oleh Pradewi Tri Chatami
Perempuan jaman sekarang, kata ibuku
tak tahu terima kasih sama Kartini.
‘dulu dia merjuangin pendidikan,
bukan sibuk bersolek buat lomba kebayaan’
(waktu itu ada kontes kebaya di tv)
Perempuan jaman sekarang, kata ibuku
tak tahu terima kasih sama Kartini.
‘dulu dia merjuangin harkat martabat wanita,
bukan maksain goyang erotis mancing birahi’
(dia lagi nonton acara gosip tentang inul)
Perempuan jaman sekarang, kata ibuku, lirih.
tak tahu terima kasih sama Kartini.
‘dulu dia nyelipin refleksi religiusitas islam
yang membela perempuan,
makanya dia ngutuk abis poligami,
karena dia juga ngalamin
langsung, ataupun engga.
Bukannya terbuai sama singkatnya asmara
dan terseret cinta yang mendua
dengan iming-iming surga.’
(ngomentarin isu poligami)
Ah..Ibu, kalo gitu,
kayaknya sekarang Kartini jengah
gerah sendirian disana di alam barzah ,
nyari cara buat ngerangsek dari kuburnya!
(april21,2k6)
Mendua
Oleh Pradewi Tri Chatami
-bwt shen-
Mendua, diantara cinta-cinta
yang tersakiti
dan menjamah bayangmu pun
menjadi lebih jadah dari dosa!
Tanganmu menghamba,
sedang ia hanya bertekuk lutut..
bulir-bulir airmata
basahi serpih hati.
(april30,2k6)
Yang Kumau
Oleh Pradewi Tri Chatami
Aku ingin hidup!
Aku ingin terbang!
Jika jatuh, aku ingin jatuh dari langit ketujuh
Aku ingin terbang melayang
sebelum mencium tanah dan hancur!
Aku ingin ajari orang-orang tuk bermimpi,
dan menjalani hidup demi mimpi
Aku ingin ajari orang untuk berani
wujudkan angan…
cintai kehidupan.
Aku ingin ajari orang-orang
mempersembahkan kehidupan,
dan bahagia…
Anak Kecil Itu
Oleh Pradewi Tri Chatami
Anak kecil itu masih disana
Mengais-ngais sampah,
berharap masih ada sekedar remah
untuk membungkam cacing di perutnya
Anak kecil itu masih disana
bernyanyi lantang
pasang muka yang bikin kasian
tapi ia masih tetap terabaikan
Anak kecil itu masih disana
terlelap dalam mimpi yang tak begitu indah,
di antara riak kehidupan malam yang tak ramah
Anak kecil itu masih disana
di tengah gang kecil di sudut kota
tangan kecilnya megang lem aibon
sesekali ia ketawa,
sesekali ia bengong,
sesekali ia meracau tentang ibu
yang mayat bugilnya ketemu di pinggir kali
Anak kecil itu masih disana
sekarang, dan entah sampai kapan…
(sept12,2k3)
Indonesia
Oleh Pradewi Tri Chatami
Berjalan di tengah remang fajar
Semburat jelaga maha kelam
Liat! Ada babi hutan naik Volvo,
dan anjing kudisan naik BMW!
Cecurut-cecurut pesta kembang api,
ngejarah nurani.
Selamat datang di labirin maha legam!
Disini, kita akan berputar di area
kemiskinan, kejahatan, basa-basi,
dan perkosaan kemanusiaan maha dahsyat!
Di tempat ini, jalan sesak
sama rambu seribu jargon!
Disini, mentari enggan terbit,
malah lari terbirit-birit!
(May20,2002)
Just 4 my self…
Oleh Pradewi Tri Chatami
Kemana saja kau selama ini?
Tanpa nurani, kau melayang mirip kunti,
tak lagi sebagai manusia yang membumi.
Ikuti palsunya mimpi tidur siang,
hingga hati buta tak jua tercerahkan.
Kelewat sibuk sama gosip remeh,
dan puas cuma sama omong kosong istilah-
istilah intelektual, sok ilmiah.
Cintamu juga tak mengarah, tak manusiawi.
Kau lebih busuk dari limbah!
Lebih iblis dari setan, parasit!
oh,…aku!
Ziarah
Oleh Pradewi Tri Chatami
Jalan itu memang tak lurus, sahabat
Kadang kita menemukan tikungan tajam tak terduga
kadang ada simpangan-simpangan yang membuat kita bingung,
Atau lupa pada tujuan kita,
Karena kita tertarik untuk membeli rokok
Dan menyeruput segelas kopi
Di kedai seberang jalan.
Hidup tak jauh dari yang demikian,
Dan lebih sering ia menawarkan kembang gula
Warnawarni agar kita sejenak berpaling
Tak mencari lagi harta karun kita.
Padahal ayah ibu selalu berpesan
Bahwa kita berpacu dengan waktu,
Ia yang takkan kembali setelah sekali ia jadi
Masalalu.
Tapi surga di akhirat sana penuh dengan pelanggar
Rambu-rambu jalan dunia pada masanya
Disesaki dengan halhal yang kerap buat kita
Disebut wong edan,
Dipenuhi sekumpulan orang yang menggilakan dirinya
Demi harta yang disebut kebenaran dan pengetahuan,
Bukankah itu tempat dari Ibrahim, Musa,
Isa, Muhammad, dan Maryam?
Bukankah Itu pula rumah Adam dan Hawa
Yang telah memakan buah terlarang?
Ah, sobat, bukankah yang benar selalu saja salah?
Dan kita hanyalah pejalan, sekali waktu kita tamasya
Di taman cinta,
Dan saat yang lain ziarah ke pemakaman kemanusiaan
Selamat Datang Di Kampus-kampusan
Oleh Pradewi Tri Chatami
selamat datang di kampus-kampusan,
institut-institutan yang kini berubah jadi
universitas-universitasan.
Sebuah perubahan-perubahanan
Termasuk tambahan-tambahanan
Fakultas-fakultasan
Yang dibumbui
Pemilihan-pemilihanan
Dekan-dekanan
Ah, ini memang tempat-tempatan
Main-mainan
Mahasiswa-mahasiswaan
Tempat belajar-belajaran
Ilmu-ilmuan
Tempat teriakan-teriakanan
Orang-orangan
Yang gila-gilaan
2006
Cinta
Oleh Pradewi Tri Chatami
Kubilang: Aku cinta kamu! Cukup??
Kuulang:
Aku cinta kamu.
Seperti cinta perempuan pada sunyi di tepi gemuruh resah
Cinta yang mengaji ayatayat gelisah pada senyap duapertiga malam.
Tak terbaca oleh dua bola mata,
Tak terkata oleh dua garis bibir,
Diam yang setia bercerita…
Aku cinta kamu,
Seperti cinta Hawa pada Adam.
Cinta yang membawa pada kejatuhan
Mengubah Taman Eden menjadi taman bermain
Mengubah sebutir Apel memjadi secawan Anggur
Mabuk, menerawangi setiap batas nalar
Sepenuh sadar…
Aku cinta kamu. Kawan. Kasih.
Dengan iman pejalan ketakpastian
Melewati setiap remang gusar diseling igau gurau
Menertawai nestapa, terbahak pada kegetiran rindu yang tak terjamah ucap…
2006
Jalang
Oleh Pradewi Tri Chatami
aku adalah perempuan jalang
begitu kata konstruksi sosial
perempuan jalang!
seru moralitas konvensional
aku memang liar,
ingin bebas menolak dirantai
tapi jika karena itu kalian pikir aku binal,
maka siapa kalian sebut diri kalian
saat kalian melacurkan apa saja
demi belenggu yang kalian sebut
tatanan norma
siapa kalian panggil satu sama lain
saat identitas yang kalian punya
hanya merkmerk keluaran pasar besar
yang kalian sebut sejati kehidupan beradab?
norma kalian memaksa manusia
melata di ujung kakinya
untuk menjilat pemegang rantai
peradaban kalian membuat manusia
lupa mereka lahir merdeka
-2006-
Karya Badru Tamam Mifka (11)
Dzikir Satu
Oleh Badru Tamam Mifka
Perempuan,
dzikir ini lahir dari mata hati yang
merapatkan dirinya pada setiap
tikungan bismillah
Ia mengurai diri dalam keheningan
yang selalu berkata pelan:
“berikan aku suara terbaik dalam
setiap kerinduan yang engkau berikan
dengan tabah untuk seorang kekasih.”
Ia takzim pada setiap gagasan yang
memberi kita sepetak hamdallah
untuk bersujud mensyukuri Cinta
Dengarlah suaranya, kekasihku
–suara yang dapat kita dengar
tanpa telinga, tanpa sedikitpun kebencian
Dzikir ini lahir dari mata hati yang
merapatkan dirinya pada setiap
tikungan bismillah
Ketika ia menatap,
maka ikutilah kemana arah ia menatap
maka pergilah menuju arah ia menatap
2006
Jika
Oleh Badru Tamam Mifka
Jika kita lahir dari kebenaran Cinta,
kenapa harus mata jiwa dipaksa buta?
Jika kita lahir dari keberanian Cinta,
kenapa harus degup bathin dibiarkan membatu?
Jika kita lahir dari keindahan Cinta,
kenapa harus selaksa mata menata leluka?
Jika kita lahir dari kemerdekaan Cinta,
kenapa harus sabda tak kunjung bersuara?
Jika kita lahir dari kesetiaan Cinta,
kenapa harus kalah meraba kisah?
Jika kita lahir dari keabadian Cinta,
kenapa harus nurani dilarang menari?
Jika kita lahir dari penempuhan Cinta,
kenapa harus usia harapan adalah angan kematian?
Jika kita lahir dari kelembutan Cinta,
kenapa harus detik bathin demikian dingin?
Jika kita lahir dari kejujuran Cinta,
kenapa harus makna terpenjara dusta?
Kenapa harus jika?
2006
Setapak Tanda
Oleh Badru Tamam Mifka
Waktu yang berputar itu berpendaran —seperti kerikil yang dilempar dan menyembunyikan
bunyi ketika sampai di dasar danau
Lalu do`a-do`a juga cabar, menembus dinding, majalah,
diary, obrolan dan surat kabar
Barangkali ada setapak tanda dari setiap langkah
Burung-burung berhamburan dan debu bertaburan
Disitu berulangkali hidup masih saja terasa menyekap
dan membebaskan
Semua orang bersitatap, mencari pahlawan
Mencari nabi dan pahlawan hari ini
Kitab hari ini
Tuhan hari ini
Peta hari ini
Semua orang mencerna mencari makna
Menggali rencana
Semua orang menyulam dunia
2006
Beratus Tahun Bebaring
Oleh Badru Tamam Mifka
Malam bangkit Heningnya tegak seperti alif
Seorang lelaki tersuruk di mata malam
Ada teriak yang berulangkali dipendam
Ia bangkit dan memulai kesedihannya
dengan nyanyi sunyi, lalu doa-doa yang demikian terbuka
Tetapi berulangkali ia terluka, terlunta:
“…haruskah aku menjahit bibirku agar tak diteriakkan lagi puisi
paling sepi yang kelak begitu mudah
menajamkan pedih didadaku?”
Lelaki itu perlahan rebah—beratus tahun terbaring
Tuhan, malam bangkit, lelaki itu kelak
tak bangkit kembali. Hening
November 2006
Di Negeri Ini Cinta Digusur Kekuasaan
Oleh Badru Tamam Mifka
Mata hati, mata hati gelisah Mata luka sejarah
Di negeri ini cinta digusur kekuasaan
Air mata ditumpahkan
Perempuan-perempuan dijatuhkan
Manusia-manusia berdesakan dalam ruang yang gelap.
Putus asa. Orang-orang kalah yang dipecah.
Mereka dikerat-kerat, digilas khianat.
Mereka diculik haknya. Dicekik kemerdekaannya.
Jika negara adalah neraka
Maka rakyat adalah gelora luka yang diperdagangkan
Ribuan orang sisa disampahkan pembangunan
Dibutakan jiwanya, ditulikan hatinya
dibisukan waktunya
Keringat bercampur air mata kehilangan
Kemiskinan meradang menerjang keseharian
Gedung-gedung dibangun, pengangguran dihiraukan
Anak-anak dididik untuk jadi gelandangan
Gelepar kelaparan, darah dingin kemiskinan
Rakyat merajut nganga rasa pedih
Rakyat dicabik rasa sedih
Dibawah telapak kaki pejabat dan hisap pengusaha
Dibawah tapak sepatu-sepatu tentara
Dibawah harapan-harapan yang dihancurkan
Dihancurkan. Mereka dihancurkan!
Jika kerja adalah serigala
Maka mereka adalah ribuan buruh yang tak utuh
Meletakkan nyeri berkelindan diantara hak, upah dan vagina
yang dilecehkan majikan
Mulut mereka dikunci, dibungkam baja dipenjara-penjara janji
Runtuhlah marsinah-marsinah diceruk kata kekuasaan
Tanpa keadilan
Jika ladang adalah murka
Maka mereka adalah petani-petani yang sakit hati
Menyandarkan rasa resah ditembok-tembok para tuan tanah
Menggarap pengap lahan pertanian, gabah yang disampahkan
Ribuan penduduk melata menyerbu kota, bermain dadu kematian
dilubang nista
Jika lapak adalah perkara
Maka mereka adalah para pedagang yang terbuang
Mengais mimpi yang robek di tepi trotoar dan di pasar-pasar
yang gusar dengan kaki yang dipatahkan, dilumpuhkan,
direbut mata pencahariannya
Atas nama ketertiban
Atas nama keindahan!
Berita Zaman
Oleh Badru Tamam Mifka
Ada ribuan berita melata diantara
hati yang terbakar dan bumi yang tercemar
Seperih mata, mulut kecut
dan kulit yang sakit, kita mendengar suami
membunuh isteri, isteri membunuh suami
dan penduduk yang menghisap
racun-racun limbah industri
200 juta rakyat sekarat
diantara keserakahan pejabat-pejabat
yang korupsi dan kematian perlawanan puisi
Masyarakat diancam kekerasan, dihantui kelaparan
dan dijerat penipuan
Populasi penduduk bengkak dan ambisi
berdesak-desak saling gasak
Undang-undang berbusa-busa ditindih
kaset-kaset palsu, VCD porno bajakan,
obat-obat oplosan dan uang palsu
Ada ternak diberi minum banyak
oleh pedagang-pedagang daging yang tamak
Agama juga dibuang di tong sampah,
dikerubuni lalat-lalat dipinggir jalan
Di kaca televisi orang membincang
skandal dan sex bebas
Ibu-ibu muntah melahap sinetron
Setiap hari penjahat-penjahat menguasai berita
Ketakutan-ketakutan menyelimuti jam dinding
Ada anak-anak kekurangan gizi
Ada antrian pembeli minyak tanah yang langka
Orang-orang miskin kehilangan nafkah dan rumahnya
Banjir dan lumpur panas menenggelamkannya
Menenggelamkan kesejahteraan
Membenamkan harapan
Dinegeri ini,
Ada kecurangan dalam pembangunan
Ada keji dalam janji-janji
Ketika pemerintah bukan lagi pembawa amanah
Ketika ulama bukan lagi peyambung agama
Ketika kejaksaan jadi komplotan
Ketika polisi jadi gadungan
Ketika pengajar jadi kurang ajar
Ketika manusia bukan lagi manusia
Ketika manusia lenyap dimabuki fantasi
O, zaman edan
Kita hidup di zaman kurapan
ketika kepala berotak diganti bola dunia
Ribuan nilai berputa-putar
menukik, mematuki diri
seperti cabikan beribu burung nazar
Berbusa-busa mulut di depan televisi
Berbusa-busa dalam ilusi
Disana kita yang dibangun dan kita yang
berulangkali dihancurkan zaman
O, zaman edan
Kita hidup di zaman kurapan
ketika tubuh dijadikan tuhan dan
pusat pemujaan yang angkuh
dalam irama komoditi
Agama dibendakan, dicari-cari
dilipatan celana Madonna
Moralitas dirobotkan, diputar-putar
dalam mekanisme libido yang binal
Kemanusiaan dimesinkan
Berjuta tanda dusta mempercepat
geliat hasrat
Berpacu dengan dahaga
Berpacu dengan berhala
Orang-orang kesurupan
dan yang lainnya ketakutan
Berlomba-lomba menenggak
fatamorgana zaman dengan segelas
luka saudaranya
Ada ribuan berita melata
Diantara koran-koran bekas yang
diinjak sepatu-sepatu dan ditiduri
anak-anak gelandangan
Televisi dimatikan dan radio berganti saluran
Listrik padam dan siang menjelang malam
Di negeri ini,
Ada ribuan orang berpesta
Ada ribuan yang lainnya dinista
2006
Doa Yang Tercatat
Oleh Badru Tamam Mifka
Kutulis doa ini untukmu, perempuanku
sebab aku ingin mencatatmu dalam
hitungan tahun yang panjang
—seperti hitungan takzim dan ketukan kerinduan
yang saling bersentuhan
Selalu ada dunia berpendar di mata kekasih
Lalu kita belajar berharap bahwa Cinta seperti ibu
yang melahirkan kita
Seperti keteduhan yang acap meluruskan muram
dan sunyi yang kerap melengkapi malam
Aku ingin mencintaimu, kekasihku
seperti kelak begitu mesranya anak-anak kecil
mencium kedua belahan pipiku
Sebelum hati-hati kuikat tali sepatuku
Sebelum pelan kau masukkan setiap kancing bajuku
Sebelum kelak kau bercerita padaku
bahwa doa-doa semalam hanyut di arus gerimis
Lalu separuhnya terselip diantara
angka-angka kalender dan temaram
Dan jika waktu adalah batu-batu
maka kita akan berjalan jauh menapakinya
Sampai akhirnya kita akan mengetuk pintu
dengan perasaan yang perkasa menerima setiap
suara kenyataan yang dihadirkan deritnya
Disana aku menjadi telaga bagi resahmu
Dan kau menjadi telaga bagi gelisahku
Selalu ada tanda yang tersisa untuk diterjemahkan
—barangkali luka dan kekhawatiran
Selalu ada makna yang diraih ketika pedih dicerna
dengan hati yang bersih, sikap yang lembut dan
pikiran yang tak lagi kalut
Hidup ini, kekasihku, seperti ribuan helai panjang
hitam rambutmu
Ada saatnya aku terlalu gemetar mengurainya
Ada saatnya kau begitu rapi menggerainya
Ada saatnya kau tak bisa lengkap merabanya
Ada saatnya aku aku begitu pasti membelainya
Atau begitu sepi langitmu dan anak-anak kecil
tampak berlarian nakal di teras mesjid ini
Atau begitu perihnya pikiranku dan kulihat bayi kecil
menangis di pangkuan bapaknya
Atau begitu harumnya kebersamaan dan aku ingin
menemanimu mencium aromanya
Atau kelak kita akan mengajari anak-anak yang penakut
untuk menulis puisi dengan bolpoint yang tiba-tiba
tintanya kering, jiwa yang tiba-tiba kering
Kutulis doa ini untukmu, perempuanku
sebab aku ingin mencatatmu dalam
hitungan tahun yang panjang
—seperti hitungan menempuhi ketabahan dan
harapan yang bersahutan
Dan jika waktu adalah restu
maka kita akan belajar saling mempertautkan kehalusannya
Selalu, kekasihku, aku ingin mencintaimu
Jadilah ibu bagi puisi-puisiku yang berserak
Jadilah ibu bagi anak-anakku kelak.
Kampus, 22 Desember 2006
“Selamat Hari Ibu”
Cipadung
Oleh Badru Tamam Mifka
Matahari turun perlahan dan
warnanya jatuh disungai
Barangkali ada petani yang akan lewat
dan tersenyum pada takzim kita, seperti sebait puisi
Masih ada angin, seperti kemarin
yang berulang-ulang kucatat diatas daun bathinku
Lalu ingin aku mengajakmu kesana
Menuruni ladang, merawat bunga-bunga dengan
jantung berdegup seperti ketukan
tangan kekasih di pintu doa-doa.
Kita akan bercocok tanam harapan
di kebun masa depan
Berpegang erat tanganku, tanganmu
Kangenku melihatmu tersipu malu
Tersenyumlah, hidup ini mungkin
seperti rasa lelah yang ingin dimengerti.
Marilah pulang, teteh, jangan dulu menoleh ke belakang
Sebelum malam habis, sisa-sisa embun jatuh
dan tunas-tunas itu tumbuh
10 maret 2007
Dik, Ini Juga Untukmu
Oleh Badru Tamam Mifka
Betapa ingin aku tetap berpaut denganmu
Seperti temali Tuhan di kerapuhan iman ini
Seperti napas Tuhan di urat leher kita
“Berjalanlah disampingku, sepenuh usia dan sendu.”
Lalu tibalah rindu ini di rumah-rumah hikmah
—tempat kita tak lelah memanen makna
dalam perbendaharaan peristiwa
Dan kitapun dipergilirkan
seperti musim dan warna cuaca yang
berubah-ubah, berganti-ganti
Disana, segala pertemuan akan menjadi seluas
pengetahuan dan perpisahan menjadi seraih pelajaran
“Temani aku, Dik, sebab kita fana dilingkaran dunia.
Agar lebih keras kita bekerja dan lebih lembut
kita berharap.”
Betapa ingin kuamalkan jiwa ini
sebelum aku lupa menghukumi diri
Sungguh, tak henti mesti kita hijrahkan diri ini
menuju Cinta
Tak henti, tak henti-henti bermanusia
Betapa ingin aku tetap berpaut denganmu, Adikku
seperti puisi-puisi. Seperti doa-doa yang sunyi.
Maret 2007
Di Tikungan Jalan
Oleh Badru Tamam Mifka
Di jalan yang menikung,
kita akan menemukan selembar doa
kita lipat saja dikerumunan hujan
biar ditabuh gerimis
digerayangi dingin
Bangun surau kita
lebih dekat dengan jalan
dan kita saling merapatkan kata-kata
Menafsir setiap ketukan dipintunya
sebagai sebuah kekalahan usia
Di jalan yang menikung,
terkadang ada beberapa doa
mengajarkan kita tetap tersenyum
pada sesuatu yang percuma
April 2006
Sajak usia
Oleh Badru Tamam Mifka
Kucatat seluruh keheningan
Ketika musim menggugurkan
Dedaun luka
Dipelupuk ketabahan
Ada seribu kata dibuang di tepi kalender
Ketika perlahan senja
Merebut setiap sajak usia
Yang surut di tajam arah
Langit turun dan semua cuaca
Gemetar disentuh sujud
Telah kita selesaikan abad ini
Tetapi simpan sejenak
Harapan panjang yang tersisa
Sebab ia terlalu mahal
Untuk kita pecahkan detik ini
Sepanjang jalan ini,
Kita berulangkali
Ditelikung usia kita sendiri
April 2006
Jalang
Oleh Badru Tamam Mifka
Perjalanan ini demikian berjatuhan
Sebab setiapkali senja pulang
Ada setapak malam menjauh mengiris arah
Aku rangkum leluka dalam muara cinta
Menyusuri semua nyeri
Lewat kekuatan puisi
Lalu apa yang dapat kita dekap
Dalam arti menunggu?
Apa yang dapat kita tangkap
Dalam arti mencari?
Kutafsir hadirmu dalam keletihan bahasa
Juga seribu diam tengadah mengukur
Setiap garis langit yang patah
Dan hidup ini jalang, saudaraku
Ia kerap mengajak kita
Bertengkar dengan
Harapan dan rasa kehilangan.
Tak henti. Tak hening.
April 2006
Inti Rindu Diriku
Oleh Badru Tamam Mifka
Engkau bersemayam dalam
Inti Rindu Diriku
Beribu-ribu kali basuh igauku
Dalam kelipatan gelisah dan putus asa
Andai aku mampu ucapkan seutuhnya
Tentang Engkau dalam kata
Andai aku mampu lukiskan seutuhnya
Wajah Engkau atas kanvas
Andai aku mampu tuliskan seutuhnya
Sosok Engkau lewat puisi
Andai aku mampu nyanyikan seutuhnya
Ada Engkau diantara lirik lagu
Andai aku mampu hadapkan wajahku
dengan wajah-Mu
Hanya remuk memahat maksud
Rahasia-Mu sudah cukup beri Mabuk
Dalam setiap ingat
Jauh kebelakang sebelum itu
Aku menebar cari Engkau dalam
dahaga jarak
Di luar diri
Engkau kesepian dalam pencarianku
ke barat, timur, utara, selatan,
kungan dan sudut-sudut langit yang jauh
Engkau disini ternyata
Dalam Inti Rindu Diriku
Amat dekat, utuh Engkau dalam akrab.
2003
Karya Ibn Ghifarie (8)
Apa Jadinya (1)
Oleh Ibn Ghifarie
Apa jadinya kalau kampus tak pandai memainkan pena?
tak ada baris sejarah, tak ada percik peradaban…
tak ada cercah harapan, tak ada goresan kenangan…
tak ada pemaknaan, kesaksian, kebenaran, perjumpaan…
sebab setiap yang di jumpai bukan lagi sesuatu yang beradab
Apa jadinya kalau kampus tak lagi mencintai buku-buku?
tak ada ilmu pengetahuan, tak ada kebijaksanaan…
tak ada karya, tak ada kemajuan…
tak ada kekayaan masa silam, keragaman, pertemuan…
sebab setiap yang di temui bukan lagi sesuatu yang berpikir [ibn ghifarie]
Cag Rames, Pojok Warnet. 30/07; 05. 00 wib
Apa Jadinya (2)
Oleh Ibn Ghifarie
Apa jadinya, jika para penguasa tak lagi bekerja?
Juga, ia malah tak menjadi pangkuan yang teduh bagi mahasiswa
Mereka hanya becus mencari posisi duduk dan lapak kerja
Memberi warna pada ribuan kepala
Agar kekuasaan tetap digjaya
Agar pikiran hanya satu logika
Agar tindakan bergerak sama
Agar ucapan terpenjara dalam satu kata
Agar bermeter-meter tumpuakn harta
Apa jadinya, jika para pengusa mendewakan politik identitas?
Jika mahasiswa diseragamkan dalam lubang hegemonitas
Tak hanya, kaya harta, tetapi kaya janji tak berbekas
Malah ganas, mendapat kritik pedas
Hanya ambisi midas
Hanya mental malas
Hanya watak culas
Hanya hati panas
Hanya jiwa rampas
Hanya sikap tak tegas
Pojok,Sekre Kere,12/09;21.08 wib
Maka Apalah Artinya
oleh Ibn Ghifarie
Bila malam tak lagi gelap
Maka apalah artinya siang
Bila mulut tak lagi berkata
Maka apalah artinya ucapan
Bila buku tak lagi dibaca
Maka apalah artinya perpustakaan
Bila alam tak lagi indah
Maka apalah artinya ketakjuban
Bila agama tak lagi menjadi rahmatan lil alamien
Maka apalah artinya agama
Bila hidup tak lagi bermakna
Maka apalah artinya kehadiran
Bila Tuhan tak lagi diharapkan
Maka apalah artinya seluruh harapan [Ibn Ghifarie]
Cag Rampes, Pojok Warnet,30/07;04.28 wib
Kenapa, Kenapa dan Kenapa?
Oleh Ibn Ghifarie
Kenapa, setiap kali terjadi keributan.
Entah atas nama agama?
Entah atas nama ormas?
Entah atas nama pergerakan?
Entah atas nama penyebaran risalah Tuhan?
Entah atas nama kemanusiaan?
Entah atas nama kaum hawa?
Entah atas nama kaum adam?
Entah atas nama harta?
Entah atas nama jabatan?
Entah atas nama daerah?
Yang jelas, perlakuan ganjil itu acapkali terjadi dan akrab dengan keseharain kita
Kenapa mesti terjadi?
Kenapa mesti menimapa kita?
Kenapa mesti baku-hantam?
Kenapa mesti adu-tojos?
Kenapa mesti melanggengakn budaya barbar?
Kenapa mesti kita amaini?
KEnapa mesti kita bela?
Kenapa mesti kita perjuangakn?
Kenapa mesti kita hujat rame-rame?
Kenapa mesti malu berkata tidak?
Bukankah kita generasi muda yang konses terhadap Intelektual dan unggul dalam moral?
Lantas dimanakah letak hati nurani kita?
Lantas dimanakah letak keintelektualitas kita?
Lantas dimanakah jargon membela rakyat kita?
Lantas dimanakah jargon pameo pengubah masanyarakat kita?
Lantas diamnakah letak kebanggaan memperjuangakn kaum lemah kita?
Lantas dimanakah letak penumbas kebatilan kita?
Lantas dimanakah posisi keteladan sebagai pemberantas kezdaliman kita?
Lantas dimanakah posisi menyapa perbedaan diantara kita?
Lantas dimanakah tempat berkumpulnya orang-orang sholeh kita?
Lantas dimanakah tempat berteduh sejenak dari kepenatah hidup kita?
Entahlah……………[Ibn Ghifarie]
Cag Rampes,Pojok Sekere kere,02/10;15.24 wib
Dzikir; Kado Ultah
oleh Ibn Ghifarie
Memang ku akui.
Terkadang aku alfa mengingatmu.
Untuk sekedar berdzikir saja, rasanya berat.
Untuk sekedar ibadah tepat waktu saja, rasanya susah.
Untuk sekedar memuja kebesarmu saja, rasanya tak sempat.
Malah asyik.
Membaca, hingga tak kenal tempat.
Menulis, hingga tak kenal waktu.
Diskusi, hingga tak ada kesimpulan.
Utak-atik Blog, hingga tak kenal lelah.
Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 20/01;06.12 wib
Di Tikungan Senja
Oleh Ibn Ghifarie
Di tikungan senja ku temukan sekuntum mawar
Yang tak lagi lagi sekar
Yang tak lagi semerbak
Yang tak lagi memekar
Malah kian menggelepar
Malah kian terkapar
Malah kian terbakar [Ibn Ghifarie]
Cag Rampes, Pojok Komputer Ngaheng, 02/03;21.48
Kian Pudar
Oleh Ibn Ghifarie
Detik-detik kian memudar
Menit-menit kian berdebar
Jam-jam kian bersandar
Hari-hari kian gemetar
Minggu-minggu kian kelakar
Bulan-bulan kian bertengger
Tahun-tahun kian tak sabar
Semuanya sirna dalam untayan kata
Semuanya lenyap dalam tutur kalimat
Semuanya hilang dalam hitungan waktu
Semuanya ditelan dalam kepongkahan
Semuanya raib di jamah ke laliman [Ibn Ghifarie]
Cag Rampes, Pojok komputer Ngaheng, 02/03;21.38 wib
Teruslah Berlarian
Oleh Ibn Ghifarie
Teruslah berlarian
Demi ngengejar mimpi yang tak pernah terwujud
Teruslah berlarian
Demi menggapai cita-cita yang tak kunjung ku raih
Teruslah berlarian
Demi untanyan kata yang tak lagi utuh
Teruslah berlarian
Demi mewujudkan karya yang tak ku genggam
Terus, terus, dan terus berlari
Hingga kealpaan menjadi bagian yang tak terpisahkan lagi
Hingga azal menjadi teman sejati [Ibn Ghifarie]
Cag Rampes, Pojok Komputer Ngaheng, 2/03;21.29 wib
Milangkala LPIK; 11 Titik
oleh Ibn Ghifarie
Ku akui mengang.
Tak banyak yang ku perbuat
Saat hari bersejarah tiba
Tak banyak yang ku lakukan
Saat bermakna mulai menjemputku
Tak banyak yang sampaikan
Saat hari bahagian mulai mengatuk qalbu
Sekedar ngumpulin kawan-kawan saja, rasanya susah
Sekedar bertukar pengalaman soal memaknai Ultah, rasanya enggan
Sekedar berpesta ria tentang Milangkala, rasanya tak sudi lagi
Sekedar berkarya, rasanya tak mau lagi.
Kini, malash sibuk dengan
Tutur kata tak karuan
Tulisan tak bermakna
Atau malah asyik noton Tom and Jerry
Semuanya tergadai
Demi sepenggal nafsu belaka
Dimanakah cita-cita muliamu
Untuk tetap berbuat
Untuk tetap berkarya
Untuk tetap menjaga
Untuk tetap melanjutkan
Yang terbaik demi lembagamu
Entahlah
Cag Rampes, Sekre Kere, 14/05;00.08 wib
Saat Alfa
Oleh Ibn Ghifarie
Kutulis seluruh kealfaan
Saat mulai enggan menyebut nama-Mu
Saat mulai jauh menginat-Mu
saat mulai redub batin ini bertasbih kepada-Mu
Saat mulai berhadapan dengan murka-Mu
Dipelupuk ke agungan-Mu
Ada seribu pengampunan
Ada seribu kata maaf
Ada seribu kebahagiaan
Ada seribu keceriaan
Kutulis semuanya
Demi meraih cinta-Mu
Demi menggenggam kasih-Mu
Demi bercumbu dengan-Mu
Demi bersemayan di arasy-Mu
Cag Rampes, Sekre Kere, 20/05;12.14 wib
Setapak Sabda
Oleh Ibn Ghifarie
Sabda adalah bahasa qalbu
Sabda adalah ungkapan hati yang suci
Sabda adalah untaian kata yang tulus
Sabda adalah tutur yang teratur
Sabda adalah suara Tuhan.
Cag Rampes, Sekre Kere, 22/05;22.38 wib
Karya Ahmad Sahidin IV (11)
Hening, Terasa Diujung Tanah
Oleh Ahmad Sahidin
iringan keranda sentak aku
memori 12 ramadhan 4 tahun silam kembali
melintas secepat kilat dimataku
diam-diam kedua pipiku basah
ada tetesan cinta dan bakti
terasa koyak uluhatiku
Sumur Tanpa Batas
Oleh Ahmad Sahidin
sedalam apapun sumur pasti berujung
batas yang memisahkan dua bagian
sebesar apapun yang tersimpan dilubuk
harus lebur bersama pengorbanan
demi cinta
demi rindu
demi bahagia
tak pernah kubenci sekejappun
kala sinarmu yang menyentuhku
namun hidupku jauh berbeda
ada nilai yang tak mungkin kuraih
rupiah jadi ukuran
angka jadi hitungan
hari-hariku tak mungkin mengejar itu
pasti karena bukan itu yang kutuju
hakikat hidup penuh cinta
hakikat hidup penuh rindu
hakikat bahagia penuh damai
tiada bukan itu persembahanku
pada Tuhan Yang Mahatertinggi
pada-Mu ya Ilahi
pengorbananku untuk yang rela
bersama meraih bahtera
dalam duka dan nestapa
kuyakin kau dapat yang terbaik
pilihan yang berkuasa padamu
menjadi titik akhir
segala kecamuk rindu bersamamu
pada-Mu ya Ilahi
ampuni noda dan dosaku
Mei 2007
Gumam Makam Cikutra
Oleh Ahmad Sahidin
I
iringan keranda sentak aku
memori 12 ramadhan 4 tahun silam kembali
melintas secepat kilat dimataku
diam-diam kedua pipiku basah
ada tetesan cinta dan bakti
terasa koyak uluhatiku
hening, terasa diujung tanah
II
wajah dan kaki dingin kaku pun beradu ditanah
papan-papan pun ditenggerkan, bersambut urugan
dan hentakan kaki-kaki menginjak
padat tak bersisa celah
papan nama pun terpancang
menancap kokoh jadi batas
II
kisah hidup manusia Tuhan yang punya
sekuat apapun hasrat dan ikhtiar, pasti berakhir
cepat seperti waktu yang menelan sejarah
dan tak ada yang tahu
kapan berada dan bagaimana akhir hidup
sebab kematian tak jauh beda dengan kehidupan
09052007